Sentuh level tertinggi, harga minyak Dubai tembus US$166
Jumat, 20 Maret 2026

DUBAI - Lonjakan ekstrem harga minyak di Timur Tengah bisa menjadi gambaran ke mana harga global akan bergerak jika perang Iran berkepanjangan dan jalur Selat Hormuz belum dibuka kembali.
Harga minyak Dubai melonjak menembus US$166 per barel, rekor tertinggi baru, sementara acuan global seperti Brent dan WTI masih berada di kisaran US$100.
Seperti dikutip Cnbc, kesenjangan ini menunjukkan betapa parahnya kekurangan pasokan di kawasan Teluk.
Pasar lokal yang sering diabaikan kini dipandang sebagai indikator awal. Jika gangguan berlanjut, harga di AS dan Eropa kemungkinan akan ikut naik karena pasokan global semakin ketat dan stok menurun.
Selat Hormuz menjadi faktor kunci. Jalur ini dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, namun lalu lintasnya anjlok drastis.
Akibatnya, minyak dari kawasan Timur Tengah melonjak lebih cepat dibanding minyak yang tidak bergantung pada jalur tersebut.
Permintaan juga bergeser. Minyak Oman, yang kualitasnya mirip Dubai tetapi tidak melalui Hormuz, mengalami lonjakan minat.
Sementara itu, WTI berpotensi menjadi alternatif meski kurang ideal, karena pembeli mulai mencari sumber lain di tengah krisis.
Dampaknya sudah terasa secara global. Harga Brent melonjak tajam sejak perang dimulai, mencerminkan tekanan besar pada pasar energi.
Namun, analis menilai harga Barat belum sepenuhnya menyamai lonjakan ekstrem di Asia.
Secara keseluruhan, penutupan Hormuz yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan biaya transportasi.
Efeknya akan merembet ke konsumen, mulai dari harga bahan bakar hingga barang sehari-hari yang ikut naik.