BofA: Perang Iran, produsen LNG Amerika diuntungkan
Sabtu, 21 Maret 2026

JAKARTA – Guncangan geopolitik di Timur Tengah kembali mendisrupsi keseimbangan pasar energi global.
Perusahaan energi pelat merah QatarEnergy dilaporkan tengah mempertimbangkan pemberlakuan status keadaan kahar (force majeure) berdurasi tiga hingga lima tahun terhadap 17 persen kapasitas produksi liquefied natural gas (LNG) miliknya akibat hantaman serangan Iran.
Analisis dari Bank of America (BofA) memproyeksikan bahwa disrupsi masif ini akan menyusun ulang lanskap pasar gas global dan secara tak terduga memberikan keuntungan besar bagi para produsen Amerika Serikat (AS) yang memiliki eksposur terkait LNG.
Seperti dikutip investing.com (19/03/2026), pusat kerusakan dilaporkan berada di Kompleks Kota Industri Ras Laffan, sebuah fasilitas vital yang menampung kapasitas produksi LNG lebih dari 10 miliar kaki kubik per hari.
Dalam wawancaranya bersama Reuters, CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengindikasikan bahwa kerusakan pada 17 persen fasilitas tersebut berarti akan ada lebih dari 1,7 miliar kaki kubik gas alam per hari yang lenyap dari pasar global, bahkan setelah perang berakhir.
Qatar saat ini merupakan produsen LNG terbesar di dunia, dengan fasilitas Ras Laffan menyumbang 20 persen dari total pasokan gas alam lintas laut (on-water) global. Meskipun dampak langsung pada pasar tertahan karena jalur Selat Hormuz (Strait of Hormuz) masih terblokir oleh perang, BofA memperkirakan pasar akan mengalami pengetatan pasokan yang ekstrem segera setelah konflik mereda.
Hilangnya pasokan dari produsen berbiaya terendah (low cost producer) ini secara radikal telah menghapus kekhawatiran terbesar di pasar gas AS. Sebelumnya pada bulan Januari, BofA sempat menurunkan prospek optimis (bullish) mereka terhadap gas alam karena khawatir megaproyek ekspansi Northfield milik Qatar akan membanjiri pasar dan menekan harga patokan Henry Hub.
Ekspansi fase pertama (trains) yang dijadwalkan beroperasi pada paruh kedua 2026 tersebut sedianya akan terus ditingkatkan hingga mencapai total kapasitas 18,5 miliar kaki kubik per hari pada 2030, setara dengan 25 persen pasar global.
Namun, dengan lumpuhnya fasilitas tersebut, BofA kini menjagokan perusahaan produsen AS seperti APA Corp dan EOG Resources untuk mendulang keuntungan. Selain itu, analis juga menempatkan EQT dan Expand (EXE) sebagai pilihan saham berkapitalisasi besar teratas dengan peringkat beli (Buy).
Secara teknis pasar, bank investasi tersebut meyakini bahwa jeda aktivitas pengeboran di wilayah Haynesville akan terjadi pada kisaran harga US$3,25 hingga US$3,50 per Henry Hub, sementara pemangkasan produksi di area cekungan (basin) Appalachia akan terjadi pada level US$1,50, yang setara dengan sekitar US$2,50 per Henry Hub.
Kendati prospek eksternal sangat cerah, BofA tetap memperingatkan adanya risiko internal berupa lonjakan pertumbuhan pasokan domestik AS. Ancaman terbesar di masa depan adalah potensi membeludaknya volume gas ikutan (associated gas) jika para produsen merespons tingginya harga minyak pada 2027 mendatang, terutama saat fasilitas penyaluran baru (egress) di wilayah Permian berkapasitas 4,5 miliar kaki kubik per hari mulai beroperasi penuh pada akhir tahun ini. (SF)