Gangguan pasokan dorong harga minyak bertahan di tiga digit
Sabtu, 21 Maret 2026

JAKARTA - Harga minyak global masih bertahan di atas US$100 per barel di tengah gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz. Pada Jumat, Brent turun tipis 0,1% ke US$108,5 per barel, sementara minyak mentah AS berada di level US$95,6.
Dikutip cnn, Goldman Sachs menilai harga tinggi berpotensi bertahan lama. “Terjadinya beberapa guncangan pasokan besar sebelumnya menggarisbawahi risiko bahwa harga minyak mungkin tetap di atas $100 untuk waktu yang lebih lama dalam skenario risiko dengan gangguan yang lebih panjang dan kehilangan pasokan yang besar dan berkelanjutan,” tulis analis dalam catatan.

Penutupan Selat Hormuz selama hampir tiga minggu telah menghambat sekitar 20% pasokan minyak global. Sumber keamanan Iran menyatakan jalur tersebut “tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang,” mempertegas risiko gangguan berkelanjutan.
Serangan Israel terhadap ladang gas South Pars memicu balasan Iran ke fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar, yang menekan kapasitas ekspor gas negara itu hingga 17%. Perbaikan diperkirakan memakan waktu hingga lima tahun, berpotensi mengganggu pasokan ke Eropa dan Asia.
Goldman memperingatkan harga Brent bisa melampaui rekor 2008 sekitar US$147 per barel jika gangguan pasokan berlanjut. Dalam skenario terburuk, harga diproyeksikan mencapai sekitar US$111 per barel pada kuartal IV/2027. Skenario lebih optimistis memperkirakan harga turun ke kisaran US$70 pada akhir 2026 jika aliran minyak pulih bertahap.
Di AS, harga bensin naik menjadi rata-rata US$3,91 per galon, tertinggi sejak Oktober 2022. Presiden Donald Trump menyatakan “Ini akan segera berakhir,” sembari menilai harga seharusnya bisa lebih tinggi tanpa konflik.
Pemerintah AS menyiapkan berbagai opsi untuk menekan harga, termasuk mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak Iran yang sudah berada di laut. Namun, Gedung Putih menolak opsi larangan ekspor minyak dan gas.
Sebagai bagian dari pelepasan cadangan darurat oleh 32 negara anggota Badan Energi Internasional, AS akan melepas lebih dari 172 juta barel minyak. Washington juga mendorong sekutu membantu membuka kembali Selat Hormuz, meski respons internasional masih terbatas.(DH)