Selat Hormuz tersendat, Asia hadapi lonjakan harga energi
Sabtu, 21 Maret 2026

JAKARTA - Eskalasi konflik Amerika Serikat - Israel dengan Iran memicu gangguan besar pada infrastruktur energi Timur Tengah dan aliran minyak serta gas global. Serangan ke fasilitas utama seperti South Pars dan Asaluyeh di Iran diikuti gelombang balasan yang menghantam kilang, pabrik gas, dan terminal ekspor di Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Dikutip reuters, sejumlah fasilitas kunci rusak atau berhenti beroperasi. Serangan drone dan rudal menghantam kilang serta fasilitas LNG, sementara puing rudal memaksa penutupan kompleks gas Habshan di UEA. Terminal ekspor Fujairah juga menjadi sasaran serangan berulang.
Bahrain menetapkan force majeure setelah kilang Sitra diserang. Irak memangkas produksi dari ladang minyak selatan meski tidak terkena serangan langsung. Beberapa pusat ekspor menghentikan operasi karena ancaman keamanan.
Militer Iran menyatakan serangan terhadap infrastrukturnya membawa konflik ke “tahap baru dalam perang”. “Jika serangan (terhadap fasilitas energi Iran) terjadi lagi, serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai infrastruktur tersebut hancur total),” kata juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari.
Dampak langsung terlihat pada pasar energi global. Harga minyak melonjak ke level tertinggi, harga diesel AS melampaui US$5 per galon, dan bensin mencapai posisi tertinggi sejak akhir 2023. Badan Energi Internasional menyerukan pelepasan 400 juta barel dari cadangan global.
Penutupan efektif Selat Hormuz mengganggu hingga 20% pasokan minyak dunia. Asia menjadi kawasan paling terdampak karena ketergantungan tinggi pada impor energi dari jalur tersebut.
Sementara itu, Indonesia dan Australia menghadapi risiko pasokan yang menurun dan harga yang melonjak. Pemerintah Indonesia memilih menahan defisit fiskal dan fokus pada pemangkasan belanja. “Jadi selama perang (di Iran) belum berlangsung lima bulan, kami masih melihat adanya pemotongan anggaran, dan kami masih beroperasi di bawah batas defisit 3% itu,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.
Pemerintah juga mempertimbangkan pajak windfall jika harga komoditas meningkat. Tekanan pasar mulai terlihat dengan pelemahan rupiah dan penurunan indeks saham.
Di Asia Tenggara, Thailand meminta masyarakat mengurangi penggunaan pendingin udara dan membatasi perjalanan dinas. Filipina menerapkan pekan kerja empat hari bagi sebagian pegawai, sementara Vietnam mendorong kerja dari rumah.
Filipina yang bergantung hingga 90% pada minyak dari Teluk mulai menyalurkan bantuan tunai dan menekan konsumsi energi. Presiden Ferdinand Marcos Jr mengatakan, “Kita adalah korban perang yang bukan pilihan kita.”
"Sebelumnya, saya menghabiskan 700 peso [£8,80] untuk membeli solar dan membawa pulang sekitar 1.000 peso per hari. Sekarang saya hanya mendapat 400 peso. Itu bahkan tidak cukup untuk makan," kata sopir jeepney, Elmer Carrascal.
Pemerintah daerah berlomba mencari alternatif pasokan dan menahan kenaikan harga. Namun, tekanan fiskal membuat subsidi energi sulit dipertahankan dalam jangka panjang.(DH)