Yield obligasi AS-Eropa melonjak, inflasi energi paksa pasar ubah arah
Sabtu, 21 Maret 2026

JAKARTA - Imbal hasil obligasi pemerintah di Amerika Serikat dan Eropa melonjak tajam pada Jumat, seiring lonjakan harga energi global akibat perang Iran yang memicu kekhawatiran inflasi berkepanjangan. Tekanan ini mendorong investor meninjau ulang arah kebijakan moneter global.
Dikutip reuters, Investor mulai meninggalkan skenario pelonggaran kebijakan. Lonjakan harga minyak memperbesar peluang kenaikan suku bunga, terutama di Amerika Serikat.
"Ekspektasi pemangkasan suku bunga memudar dengan cepat," kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth Management. "Anda perlu membuka kembali Selat Hormuz dan memastikan aliran minyak kembali normal, itu akan meredakan tekanan harga minyak."
Di AS, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak musim panas lalu. Pelaku pasar yang sebelumnya memproyeksikan penurunan suku bunga kini mulai memasukkan peluang kenaikan suku bunga tahun ini.
Kenaikan yield langsung menekan pasar keuangan. Indeks S&P 500 mencatat penurunan mingguan keempat berturut-turut, sementara Nasdaq anjlok 2% dalam sehari dan mendekati koreksi 10% dari puncaknya.
Di Eropa, tekanan serupa terjadi. Yield obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun menembus 5%, tertinggi sejak krisis keuangan global. Di Jerman, yield obligasi 10 tahun mencapai 3,025%, level tertinggi sejak krisis zona euro 2011.
Bank sentral utama tetap waspada. The Fed dan Bank of England menahan sikap hati-hati terhadap risiko inflasi, sementara pembuat kebijakan ECB memperingatkan tekanan harga tanpa memberi sinyal tegas soal pengetatan.
Pasar kini berbalik arah. Ekspektasi pemangkasan suku bunga ECB yang sebelumnya sekitar 40% berubah menjadi peluang kenaikan suku bunga pada April atau Juni. Di AS, probabilitas kenaikan suku bunga pada November melonjak menjadi 32% dari hampir nol sehari sebelumnya.
Gubernur The Fed Christopher Waller mengakui perubahan sikap tersebut. "Konflik ini tampaknya akan berlangsung lebih lama dan harga minyak akan tetap tinggi lebih lama," katanya.
Obligasi tenor pendek mencatat tekanan terbesar. Di Inggris, yield obligasi dua tahun melonjak lebih dari 30 basis poin, sementara di Jerman mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan.
Ketegangan geopolitik memperburuk situasi. AS mempercepat pengiriman ribuan personel militer ke Timur Tengah, sementara gangguan di Selat Hormuz memicu Irak menetapkan force majeure pada ladang minyak milik asing.
Investor juga memantau respons fiskal. Spanyol menyiapkan stimulus 5 miliar euro untuk meredam dampak energi, sementara Italia menghadapi kenaikan yield akibat ketergantungan tinggi pada impor energi, yang memperlebar spread dengan Jerman.
"Tidak ada perkembangan positif terkait perang sejauh ini dan kita memasuki pekan keempat, tekanan kemungkinan akan terus meningkat," kata Padhraic Garvey dari ING.
"Faktanya, risiko kenaikan inflasi cukup besar dan aksi jual obligasi ini masuk akal," kata Chris Scicluna dari Daiwa Securities. "Penyesuaian ekspektasi suku bunga, khususnya di Eropa, terlihat wajar mengingat lonjakan harga energi."(DH)