Perang Iran picu lonjakan energi, pertumbuhan global terancam
Sabtu, 21 Maret 2026

JAKARTA - Perang Iran meningkatkan risiko krisis pasokan energi global. Dampaknya mulai terasa dan berpotensi meluas ke berbagai ekonomi, terutama negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi dan struktur industri padat energi.
Dikutip reuters, di kelompok negara maju, Eropa menjadi kawasan paling terpapar. Guncangan energi mengingatkan krisis saat perang Rusia-Ukraina yang mendorong inflasi melonjak dan menekan aktivitas ekonomi.
Jerman menghadapi tekanan besar karena sektor industrinya sensitif terhadap kenaikan biaya energi. Pemulihan manufaktur yang baru mulai terjadi terancam terhenti, sementara ketergantungan pada ekspor membuat ekonomi rentan terhadap perlambatan global. Ruang fiskal untuk stimulus tambahan juga terbatas.
Italia menghadapi risiko serupa dengan basis manufaktur besar dan ketergantungan tinggi pada minyak dan gas dalam bauran energinya. Inggris menghadapi tekanan dari lonjakan harga gas yang langsung memengaruhi tarif listrik. Kebijakan batas harga energi menahan inflasi dalam jangka pendek, namun berisiko memperpanjang periode suku bunga tinggi di tengah kenaikan pengangguran dan tekanan pasar obligasi.
Jepang berada di garis depan risiko pasokan, dengan hampir seluruh impor minyaknya berasal dari Timur Tengah dan sebagian besar melewati Selat Hormuz. Pelemahan yen memperparah tekanan inflasi, terutama pada harga pangan dan kebutuhan pokok.
Di kawasan Teluk, dampak langsung muncul dari gangguan ekspor energi. Lonjakan harga tidak memberikan manfaat jika distribusi terhambat, terutama bagi negara yang bergantung pada jalur Selat Hormuz. Proyeksi pertumbuhan mulai direvisi turun. Arus remitansi dari pekerja migran juga berisiko terganggu.
India menghadapi tekanan besar sebagai importir energi utama. Ketergantungan tinggi pada minyak dan LPG, serta jalur pasokan melalui Hormuz, memicu pelemahan mata uang dan penurunan proyeksi pertumbuhan. Kenaikan harga gas mulai menekan konsumsi domestik.
Turki menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan tekanan ekonomi. Potensi arus pengungsi meningkat, sementara bank sentral menghentikan pelonggaran moneter dan menguras cadangan devisa untuk menjaga stabilitas mata uang.
Sejumlah negara dengan kondisi ekonomi rapuh berada dalam posisi paling berisiko. Sri Lanka dan Pakistan mulai menerapkan pembatasan energi dan penghematan fiskal untuk menahan tekanan. Mesir menghadapi lonjakan biaya impor energi dan pangan, serta risiko penurunan pendapatan dari Terusan Suez dan pariwisata, di tengah beban utang dalam dolar yang semakin berat akibat pelemahan mata uang.(DH)