China bikin internet 1 Gbps dari angkasa, lewati milik Starlink
Senin, 23 Maret 2026

JAKARTA - Eksperimen komunikasi satelit China menunjukkan transmisi data berkecepatan tinggi dari orbit geostasioner tetap stabil meski menghadapi distorsi atmosfer.
Dikutip dailygalaxy, uji coba dilakukan di Observatorium Lijiang, China barat daya, menggunakan satelit pada ketinggian sekitar 36.000 km. Sinyal laser yang dikirim dari orbit mengalami gangguan saat melewati atmosfer sebelum diterima di Bumi.
Sistem penerima dirancang khusus untuk mengatasi kondisi tersebut. Teleskop berdiameter 1,8 meter dipadukan dengan 357 mikro-cermin yang menyesuaikan sinyal secara real-time, sehingga distorsi tidak mengganggu proses pemulihan data.
Penelitian ini dipublikasikan dalam Acta Optica Sinica dan dipimpin oleh Wu Jian dari Peking University of Posts and Telecommunications serta Liu Chao dari Chinese Academy of Sciences. Fokus utama riset adalah memastikan transmisi stabil pada fase paling sulit, yaitu saat sinyal melewati atmosfer.
Hasilnya, tim mencatat kecepatan downlink hingga 1 Gbps dengan daya hanya 2 watt. Kinerja ini disebut lebih cepat dibandingkan sistem Starlink, meski satelit beroperasi pada ketinggian jauh lebih tinggi dibanding orbit rendah milik jaringan tersebut.
Perbandingan ini menonjol karena perbedaan jarak. Satelit orbit rendah umumnya berada ratusan kilometer dari Bumi, sementara uji coba ini dilakukan dari orbit geostasioner yang lebih dari 60 kali lebih jauh. Keunggulan lain terlihat pada efisiensi daya. Transmisi menggunakan daya rendah, setara perangkat listrik kecil, namun tetap menghasilkan kecepatan tinggi.
Keberhasilan ini ditentukan oleh metode pemrosesan sinyal di darat. Sistem menggabungkan optik adaptif dan teknik multi-mode. Sinyal yang telah terdistorsi dipecah menjadi delapan kanal, lalu dipilih tiga kanal terkuat untuk diproses lebih lanjut.
Pendekatan ini meningkatkan kualitas sinyal yang dapat digunakan dari 72% menjadi 91,1%. Peningkatan tersebut menunjukkan perbaikan tidak hanya pada kecepatan, tetapi juga stabilitas transmisi.
Penggunaan orbit geostasioner memberikan keuntungan pada kestabilan posisi satelit, namun menambah tantangan jarak dan gangguan atmosfer. Uji coba ini menunjukkan sistem tetap mampu menjaga performa dalam kondisi tersebut.
Teknologi ini dinilai lebih cocok untuk kebutuhan jaringan berkapasitas besar, seperti backbone komunikasi, dibandingkan penggunaan langsung oleh konsumen.
Eksperimen ini menegaskan bahwa hambatan utama bukan berada di ruang angkasa, melainkan pada lapisan atmosfer. Sistem yang dikembangkan mampu mengatasi distorsi tersebut dan menjaga kualitas data tetap utuh hingga diterima di Bumi.(DH)