Trump ingin akhiri semangat ala Fidel Castro di Kuba, mengapa?
Senin, 23 Maret 2026

HAVANA - Donald Trump berupaya meyakinkan publik bahwa kesepakatan dengan Cuba semakin dekat.Namun setelah perkembangan terbaru, peluang tersebut tampak semakin tidak pasti.Seperti dikutip CNN, Trump menilai pemerintah di Havana berada dalam tekanan berat.Ia menyebut negara itu kekurangan energi dan dana, sehingga diyakini membutuhkan kesepakatan untuk menyelamatkan ekonominya.Tekanan yang dihadapi Kuba disebut sebagai yang paling berat sejak Cuban Missile Crisis, ketika ancaman invasi Amerika Serikat terhadap pulau tersebut hampir terjadi.Saat ini, Kuba kembali menghadapi pembatasan ekonomi AS yang diperparah dampak kebijakan terhadap pasokan minyak, termasuk langkah militer di Venezuela dan ancaman tarif terhadap Mexico.Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang merupakan keturunan Kuba dan dikenal sebagai kritikus keras pemerintah Havana, memimpin negosiasi.Di sisi lain, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel sebelumnya menegaskan tidak akan memberikan konsesi kepada Washington, terutama setelah 32 tentara Kuba tewas saat membela Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam serangan AS.Namun tekanan ekonomi akibat pembatasan minyak mulai memunculkan tanda-tanda kompromi.Pemerintah Kuba membebaskan 51 tahanan, termasuk beberapa demonstran anti-pemerintah, serta mengumumkan reformasi terbatas yang memungkinkan warga Kuba di luar negeri berinvestasi di dalam negeri.Díaz-Canel sempat mengakui adanya dialog dengan AS, meskipun sebelumnya dibantah. Ia menyebut upaya komunikasi selalu dilakukan dalam situasi tegang antara kedua negara.Meski demikian, pernyataan Trump kembali memicu ketegangan.Dalam pernyataan di Gedung Putih, ia menyatakan yakin dapat “mengambil alih” Kuba atau melakukan apa pun yang diinginkan terhadap negara tersebut.Rubio juga menegaskan perlunya pergantian kepemimpinan di Kuba untuk memperbaiki ekonomi.Komentar Trump, termasuk pernyataan keliru soal risiko badai di Kuba, memperkuat pandangan kelompok garis keras di Havana bahwa tujuan akhir AS adalah mencaplok pulau tersebut.Pemerintah Kuba segera merespons. Díaz-Canel menegaskan bahwa setiap agresi eksternal akan menghadapi perlawanan kuat.Pejabat Kuba juga menolak kemungkinan AS menentukan siapa yang memimpin negara itu.Diplomat senior Kuba untuk urusan AS, Carlos Fernández de Cossío, menegaskan bahwa posisi presiden Kuba tidak dapat dinegosiasikan dengan Washington.Di tengah meningkatnya ketegangan, musisi legendaris Silvio Rodríguez terlihat menerima senjata bersama presiden dan pejabat militer sebagai simbol kesiapan mempertahankan negara.Rodríguez, yang dikenal sebagai pendukung revolusi dan sering dijuluki “Bob Dylan dari Kuba,” bahkan menyatakan siap membela negaranya jika terjadi serangan.Tekanan AS justru dinilai memperkuat solidaritas internal Kuba.Menurut profesor William LeoGrande, meski embargo ekonomi AS berdampak besar terhadap ekonomi Kuba, masyarakat juga mulai menyoroti kesalahan kebijakan pemerintah sendiri sebagai penyebab krisis. (DK)