Saudi Aramco pangkas pasokan minyak ke Asia dua bulan berturut

Senin, 23 Maret 2026

image

SINGAPURA - Saudi Aramco memangkas pasokan minyak mentah ke pembeli Asia untuk bulan kedua berturut-turut pada April, menurut dua sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, setelah perang AS–Israel dengan Iran mengganggu jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.Perusahaan minyak terbesar dunia itu hanya memasok crude jenis Arab Light yang dikirim dari pelabuhan Laut Merah di Yanbu kepada pelanggan kontrak jangka panjang pada April.Seperti dikutip Reuters, kondisi ini membuat pasokan ke kilang Asia tetap terbatas dan membatasi produksi bahan bakar olahan mereka.Hingga kini, Aramco belum memberikan komentar resmi di luar jam operasional kantor.Data dari firma analitik Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi sejauh Maret mencapai 4,355 juta barel per hari, turun dibandingkan 7,108 juta barel per hari pada Februari.Produsen tersebut berupaya meningkatkan pengiriman minyak melalui Yanbu untuk mengimbangi gangguan distribusi akibat situasi di Selat Hormuz.Kilang terbesar China, Sinopec, dijadwalkan memuat sekitar 24 juta barel minyak Saudi dari Yanbu sepanjang Maret.Aktivitas pemuatan di pelabuhan Yanbu sempat terganggu pada Kamis setelah sebuah drone jatuh di kilang SAMREF milik Saudi Aramco.

Sebagai informasi, Saudi Aramco membukukan laba bersih sepanjang tahun 2025, sebesar US$93,4, turun sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya seiring melemahnya harga minyak global.

Di tengah penurunan kinerja tersebut, perusahaan energi terbesar di dunia itu juga mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) hingga US$3 miliar, yang menjadi buyback pertama dalam sejarah perusahaan.

Laporan kinerja itu dirilis saat pasar energi global bergejolak akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan di kawasan tersebut memicu gangguan pelayaran di Strait of Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dunia.

Chief Executive Officer Aramco, Amin Nasser, memperingatkan dampak besar jika konflik terus mengganggu jalur tersebut. Ia menyebut potensi “konsekuensi bencana” bagi pasar minyak global. (DK)