Fans Kpop berang, lumpuhkan sistem dana pensiun Korsel
Senin, 23 Maret 2026

SEOUL – Kekuatan solidaritas penggemar musik Kpop kembali menunjukkan skala yang tak terduga, kali ini hingga mengganggu layanan publik berskala nasional.
Rentetan protes massal dari para penggemar dilaporkan telah melumpuhkan saluran dukungan telepon dan email milik dana pensiun Korea Selatan yang bernilai US$900 miliar.
Aksi siber ini dipicu oleh kemarahan atas keputusan mendadak hengkangnya salah satu anggota grup idola pria populer, Enhypen, yang bernaung di bawah agensi manajemen di mana dana pensiun pemerintah tersebut memiliki kepemilikan saham.
Seperti dikutip Reuters (19/03/2026), Ketua sekaligus CEO National Pension Service (NPS), Kim Sung-joo, membeberkan insiden kekacauan tersebut melalui unggahan di Facebook pada hari Rabu.
Ia mendesak para penggemar Enhypen untuk segera menghentikan gangguan terhadap sistem mereka, mengingat tindakan tersebut telah sangat menyusahkan para pekerja di Korea maupun di luar negeri yang sedang membutuhkan layanan konsultasi pensiun.
Menurut Kim, NPS secara keliru dijadikan target amukan massal akibat sebuah unggahan salah kaprah di media sosial yang mengklaim bahwa NPS adalah pemegang saham mayoritas dari HYBE, label manajemen yang menaungi Enhypen.
Kim dengan tegas membantah dan mengklarifikasi bahwa NPS sama sekali tidak pernah ikut campur dalam urusan pembentukan grup Kpop maupun dinamika internal anggotanya.
Skema pelumpuhan ini bermula ketika sejumlah pengguna di platform X menyebarkan nomor pusat dukungan NPS secara daring dan memobilisasi massa untuk memprotes pendepakan anggota Enhypen tersebut.
Alhasil, dana pensiun negara itu langsung dihantam oleh gelombang panggilan telepon dari luar negeri dan kiriman lebih dari 1.500 email hanya dalam kurun waktu dua jam.
Secara finansial, dokumen resmi perusahaan memang mencatat bahwa NPS memegang 7,54 persen saham di HYBE pada akhir September lalu.
Angka ini menjadikan badan pemerintah tersebut sebagai pemegang saham terbesar ketiga, persis di bawah sang pendiri HYBE, Bang Si-hyuk, dan perusahaan pengembang gim Netmarble.
Puncak kemarahan ini meledak tak lama setelah Heeseung, salah satu anggota Enhypen, mengumumkan kepergiannya secara tiba-tiba dari grup pada hari Selasa demi mengejar karier solo.
Kelompok penggemar Kpop yang didominasi kaum muda dan sangat melek teknologi (tech-savvy) ini memang secara rutin menggunakan media sosial untuk mengekspresikan protes atau dukungan terkait selebritas pujaan mereka.
Namun, insiden yang menimpa NPS ini menandai kasus yang sangat langka di mana layanan publik pemerintah benar-benar berhasil dilumpuhkan.
Kejadian serupa dengan medium yang berbeda pernah terjadi tahun lalu, ketika kelompok penggemar grup idola wanita NewJeans membanjiri mesin faks milik kementerian kebudayaan Korea Selatan demi mendesak penyelidikan formal terhadap agensi manajemen grup tersebut. (SF)