Dolar langka di Venezuela, pengusaha beralih ke kripto

Selasa, 24 Maret 2026

image

JAKARTA - Di Venezuela, keterbatasan dolar AS menekan operasional pelaku usaha menengah. Industri farmasi termasuk yang terdampak karena bergantung pada impor bahan baku.

Dikutip reuters, seorang pemilik pabrik mengaku kesulitan memperoleh valuta asing melalui jalur resmi. Sistem lelang yang dikelola otoritas moneter tidak memberikan kepastian akses maupun kurs. Permohonan pembelian dolar yang diajukan beberapa kali tidak mendapat persetujuan.

Untuk menjaga produksi, pelaku usaha beralih ke pasar nonresmi dengan nilai tukar lebih tinggi. Langkah ini meningkatkan biaya dan mendorong kenaikan harga obat di pasar.

Temuan Reuters menunjukkan persoalan ini terjadi luas di berbagai sektor. Keterbatasan valuta asing menjadi hambatan utama aktivitas produksi.

Survei Conindustria mencatat 58% perusahaan menengah menghadapi kendala serupa. Sejumlah pelaku usaha mulai menggunakan kripto sebagai alternatif pembayaran impor.

Sanksi internasional membuat sistem perbankan Venezuela terisolasi dari jaringan keuangan global. Transfer lintas negara terbatas, sementara distribusi dolar bergantung pada lelang dari pendapatan minyak.

Meski ada peningkatan penjualan minyak setelah transisi kekuasaan dari Nicolas Maduro ke Delcy Rodriguez, ketersediaan dolar di pasar domestik belum membaik.

Data analis menunjukkan nilai lelang dolar periode awal tahun mencapai US$1,3 miliar, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Akses terhadap dolar dinilai tidak merata.

Sumber industri menyebut perusahaan besar di sektor strategis memperoleh prioritas. Sementara itu, pelaku usaha menengah di sektor farmasi, kimia, dan manufaktur lainnya kesulitan mendapatkan alokasi.

Tekanan biaya akibat kurs tidak resmi mempercepat kenaikan harga dan memperparah inflasi yang sudah tinggi.

Presiden Conindustria, Tito Lopez, menilai kekurangan valuta asing dapat mengganggu rantai pasok industri dan menahan pemulihan ekonomi.

Sementara itu, Pemerintah Amerika Serikat mendorong ekspansi investasi di sektor minyak, gas, dan tambang di Venezuela seiring upaya meningkatkan pasokan energi dan arus dolar. Washington juga telah merealisasikan penjualan minyak senilai sekitar US$2 miliar sebagai bagian dari strategi tersebut.

Dalam kunjungan ke Caracas pada Maret, Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum menyatakan peningkatan aliran modal diharapkan memperkuat stabilitas mata uang bolivar dan menekan dampak hiperinflasi.

“Segala langkah untuk menciptakan mata uang yang stabil agar masyarakat tidak terdampak hiperinflasi akan sangat positif,” ujarnya.

Namun, pelaku usaha kecil dan menengah masih menghadapi hambatan akses ke sistem keuangan global. Bank koresponden asing memperketat verifikasi transaksi dari Venezuela, sehingga banyak perusahaan gagal memenuhi persyaratan.

Di tengah keterbatasan tersebut, pelaku usaha kembali memanfaatkan mata uang kripto sebagai alternatif untuk memperoleh valuta asing dan membayar impor.

“Yang tidak ikut lelang, masuk ke pasar lain,” kata seorang pengusaha, merujuk pada kripto. Ia berharap peningkatan pasokan dolar dapat mengurangi ketergantungan pada skema tersebut, namun kondisi itu belum terjadi.(DH)