Saham Asia dan minyak rebound usai Donald Trump tunda serangan Iran

Selasa, 24 Maret 2026

image

TEHERAN - Saham Asia menguat, harga minyak kembali naik, dan dolar AS bergerak tidak stabil pada Selasa (24/3).Hal tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana pengeboman jaringan listrik Iran, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi guncangan energi yang lebih besar.Pasar sempat bergejolak di awal pekan setelah Trump memperpanjang lima hari tenggat ultimatum kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.Seperti dikutip Reuters, pembatalan ultimatum ini dengan alasan adanya pembicaraan yang dinilai konstruktif dengan pihak Iran, meskipun klaim tersebut dibantah Teheran.Menurut Rajeev De Mello dari GAMA Asset Management, langkah tersebut kemungkinan merupakan strategi negosiasi, karena lonjakan harga minyak yang terlalu tinggi juga dapat merugikan Amerika Serikat.Reaksi pasar cukup cepat pada Senin, di mana harga minyak mentah turun tajam sementara pasar saham melonjak, diikuti pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah.Pergerakan tersebut berlanjut pada perdagangan Asia hari Selasa, dengan indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik sekitar 1,3%.Bursa Australia menguat 0,7%, sedangkan indeks Nikkei 225 melonjak lebih dari 2% setelah sebelumnya anjlok tajam.Harga minyak juga kembali naik setelah penurunan sekitar 10% pada sesi sebelumnya, dengan Brent diperdagangkan di kisaran US$100 per barel dan minyak mentah AS mendekati US$90 per barel.Meski demikian, volatilitas pasar tetap tinggi seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian prospek harga energi.Chris Weston dari Pepperstone menilai pasar masih menghadapi ketidakpastian hingga tenggat terbaru, karena pelaku pasar menilai apakah penundaan tersebut membuka peluang kesepakatan atau hanya memperpanjang ketidakpastian.Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury stabil setelah sebelumnya turun tajam, seiring berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral utama.Pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve cenderung mempertahankan suku bunga tahun ini.Ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of England dan European Central Bank juga menurun, meskipun biaya impor energi berpotensi tetap meningkat jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.Di pasar valuta asing, dolar AS melemah seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko.Euro naik ke sekitar US$1,16, sementara poundsterling bertahan dekat level tertinggi dua pekan. Terhadap yen Jepang, dolar relatif stabil.Data terbaru menunjukkan inflasi inti Jepang berada di 1,6% pada Februari, turun di bawah target 2% yang ditetapkan Bank of Japan untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun, sehingga menambah tantangan bagi kebijakan suku bunga selanjutnya.(DK)