Donald Trump tunda serangan Iran, dolar AS melemah
Selasa, 24 Maret 2026

WASHINGTON - Dolar Amerika Serikat (AS) berada di bawah tekanan terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Selasa (24/3), setelah Donald Trump menunda rencana serangan terhadap jaringan listrik Iran.
Seperti dikutip Reuters, langkah tersebut sempat meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi eskalasi konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” terkait kemungkinan penyelesaian konflik secara menyeluruh.
Namun demikian, pihak Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington.
Perbedaan pernyataan tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati, meskipun sebelumnya sempat terjadi penguatan aset berisiko setelah penundaan serangan selama lima hari.
Pasar juga mencermati potensi gangguan terhadap pasokan energi global. Konflik di kawasan tersebut dinilai berisiko mengganggu sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia yang melewati Selat Hormuz.
Di pasar valuta asing, poundsterling melemah sekitar 0,5% ke level US$1,339 setelah sebelumnya sempat menguat hampir 1%. Euro juga turun 0,2% ke kisaran US$1,159, setelah mencatat kenaikan pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, indeks dolar, yang mengukur kinerja dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, tercatat naik tipis 0,2% ke level 99,35, setelah sebelumnya menyentuh titik terendah dalam hampir dua pekan.
Analis National Australia Bank, Rodrigo Catril, menilai perkembangan tersebut sedikit meredakan volatilitas pasar, namun belum cukup kuat untuk mendorong tren risk-on secara berkelanjutan.
Ketidakpastian juga dipicu oleh dinamika kebijakan Trump yang kerap berubah, sehingga pelaku pasar masih mempertanyakan apakah penundaan ini mencerminkan upaya negosiasi yang serius atau hanya jeda sementara dari ketegangan.
Dolar Australia melemah 0,2% ke US$0,6993 setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam enam pekan. Dolar Selandia Baru juga turun 0,23% ke US$0,5845.
Di pasar komoditas, harga minyak tercatat naik tipis setelah sebelumnya anjlok lebih dari 10%. Minyak mentah Brent kembali berada di atas US$100 per barel seiring kekhawatiran terhadap pasokan yang masih membayangi.
Analis Pepperstone, Chris Weston, mengatakan pelaku pasar masih menilai apakah penundaan tersebut akan membuka jalan menuju kesepakatan atau justru memperpanjang ketidakpastian.
Di Asia, yen Jepang relatif stabil di kisaran 158,6 per dolar AS. Data menunjukkan inflasi inti Jepang tercatat sebesar 1,6% pada Februari, masih di bawah target 2% yang ditetapkan oleh Bank of Japan, sehingga menyulitkan ruang bagi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. (DK)