CEO Cevron; dampak perang Iran belum terermin di harga minyak
Selasa, 24 Maret 2026

JAKARTA - CEO Chevron, Mike Wirth, menilai pasar minyak belum sepenuhnya mencerminkan besarnya gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.
“Pasar berjangka minyak belum sepenuhnya memperhitungkan skala gangguan pasokan yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz,” ujar Wirth dalam konferensi CERAWeek yang diselenggarakan oleh S&P Global, dikutip cnbc.
Ia menambahkan, “Ada manifestasi fisik yang sangat nyata dari penutupan Selat Hormuz yang berdampak ke seluruh dunia dan melalui sistem yang menurut saya belum sepenuhnya tercermin dalam kurva harga berjangka minyak.”
Harga minyak sempat turun lebih dari 10% pada Senin setelah Presiden Donald Trump menyatakan ingin mencapai kesepakatan dengan Iran. Trump juga menunda rencana serangan terhadap fasilitas listrik Iran selama lima hari menyusul pembicaraan yang disebut produktif.
Di sisi lain, kontrak minyak mentah AS pengiriman Mei ditutup di US$88,13 per barel, sementara Brent berada di US$99,94 per barel. Kontrak pengiriman Agustus diperdagangkan di kisaran US$81 per barel, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa gangguan pasokan akan mereda.
Namun, menurut Wirth, pergerakan pasar lebih dipengaruhi persepsi dibanding kondisi riil. “Kita punya banyak minyak dan gas sekarang yang tidak mengalir ke pasar,”nya. “Benar-benar ada perbedaan dalam hal pasokan fisik kali ini dibandingkan dengan insiden sebelumnya.”
Sementara itu, sekitar 20% pasokan minyak global sebelumnya melewati Selat Hormuz. Saat ini, arus tanker turun tajam akibat serangan Iran terhadap kapal komersial. Produsen di kawasan Teluk memangkas produksi karena keterbatasan ekspor, sementara serangan rudal dan drone juga merusak infrastruktur energi.
Wirth memperingatkan pemulihan pasokan tidak akan cepat. “Seberapa cepat produksi itu dapat kembali beroperasi adalah sebuah ketidakpastian yang harus kita hadapi ke depannya,” katanya. “Akan butuh waktu untuk keluar dari situasi ini.”(DH)