Perang seret pasokan tungsten, industri dan militer berebut?

Selasa, 24 Maret 2026

image

JAKARTA - Perang di Iran dan Ukraina menguras tidak hanya stok rudal, tetapi juga tungsten, logam kunci yang digunakan dalam amunisi berdaya tembus tinggi.

Dikutip reuters, Amerika Serikat dan Israel menggunakan ribuan amunisi dalam serangan udara, yang sebagian besar mengandung tungsten. Berbeda dengan penggunaan industri yang bisa didaur ulang, tungsten dalam amunisi habis saat ledakan dan tidak dapat digunakan kembali.

Tekanan permintaan ini memicu krisis di pasar global. Harga ammonium paratungstate (APT), bahan antara tungsten, melonjak dari di bawah US$400 per ton menjadi lebih dari US$2.200 dalam setahun terakhir, menurut data Shanghai Metals Market. Kenaikan ini melampaui kinerja komoditas utama lain seperti tembaga, emas, dan minyak.

Konsultan Project Blue yang mengutip data U.S. Geological Survey menyebut harga tungsten kini berada di level tertinggi dalam setidaknya 90 tahun.

Pasokan global semakin tertekan karena dominasi China, yang menguasai sekitar 80% produksi tambang dunia. Pembatasan ekspor sejak awal 2025 telah menekan pengiriman hingga hampir 40%, menurut Wolfram Advisory. Produksi domestik China juga turun akibat pembatasan kuota dan pengetatan lingkungan.

Di sisi lain, peningkatan pasokan dari luar China masih terbatas. Produksi non-China naik 20% menjadi 19.000 ton pada 2025, didorong oleh beroperasinya tambang baru di Kazakhstan. Namun, sebagian besar proyek baru masih dalam tahap pengembangan dan belum menghasilkan.

Kondisi ini memperbesar potensi perebutan pasokan antara sektor militer dan industri sipil. Sektor pertahanan yang sebelumnya menyerap sekitar 10% konsumsi global diperkirakan akan meningkatkan permintaan seiring upaya pengisian ulang stok amunisi.

“Matematika rudal adalah matematika mineral” dan konflik di Teluk saat ini menjadi “penyerap besar mineral.”

Ketergantungan Barat pada pasokan mineral dari China menjadi tantangan utama. Upaya membangun rantai pasok baru dinilai membutuhkan waktu panjang, sementara kebutuhan logam kritis terus meningkat di tengah eskalasi konflik.(DH)