Bank BUMN China targetkan profit hingga US$8 triliun, ini pemicunya
Rabu, 25 Maret 2026

JAKARTA - Bank-bank milik negara terbesar di China diperkirakan mulai pulih pada 2026 setelah tekanan margin laba mereda. Perbaikan ini ditopang penyesuaian ulang suku bunga deposito berjangka bernilai hampir US$8 triliun yang jatuh tempo, sehingga menurunkan biaya pendanaan.
Dikutip reuters, sepanjang tahun 2025, lima bank terbesar diproyeksikan mencatat penurunan laba atau perlambatan pertumbuhan pendapatan saat merilis laporan keuangan tahunannya. Tekanan berasal dari krisis utang sektor properti yang berlanjut dan perlambatan ekonomi domestik.
Risiko eksternal juga membayangi. Perang di Iran berpotensi memicu inflasi berbasis biaya dan menekan sektor korporasi, pasar tenaga kerja, serta upah di China yang saat ini juga menghadapi tekanan deflasi. Meski demikian, analis melihat faktor penopang mulai terbentuk.
Salah satu faktor utama adalah penurunan bertahap suku bunga deposito yang dikendalikan regulator dalam empat tahun terakhir. Kebijakan ini bertujuan menjaga margin laba perbankan dan kini mulai berdampak pada perbaikan kinerja.
“Penyesuaian suku bunga deposito akan menjadi pendorong utama di balik pulihnya kinerja pendapatan bank pada tahun 2026 dan seharusnya membantu menstabilkan margin bunga bersih mereka,” kata Zhang Yiwei, seorang analis di China Galaxy Securities.
Zhang memperkirakan sekitar 54 triliun yuan deposito berjangka akan jatuh tempo pada 2026. Perpanjangan deposito tiga tahun dengan suku bunga saat ini diperkirakan menurunkan biaya hingga 135 basis poin dibandingkan 2023 dan menambah sekitar 12 basis poin terhadap margin bunga bersih (NIM).
Data LSEG menunjukkan Industrial and Commercial Bank of China berpotensi mencatat penurunan laba 2% pada 2025, sementara China Construction Bank turun 0,4%. Agricultural Bank of China diperkirakan masih mencatat pertumbuhan laba 2,3%, namun melambat. Adapun Bank of China dan Bank of Communications diproyeksikan hanya tumbuh di bawah 1%.
Pada 2026, tiga dari lima bank tersebut diperkirakan mencatat pertumbuhan laba bersih tahunan di kisaran 2,3% hingga 3,3%. Sementara itu, Bank of China diproyeksikan tumbuh 0,9% dan Bank of Communications 1,5%.
Penyesuaian deposito jatuh tempo yang diperkirakan mencapai 50 triliun yuan pada 2026, menurut Huatai Securities, menjadi momentum penting bagi stabilisasi margin. Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan suku bunga pinjaman acuan akibat lemahnya permintaan kredit telah menekan NIM ke level terendah.
“Kami memperkirakan tekanan margin akan mereda bagi bank-bank Tiongkok dan stabil pada tahun 2027, terutama didorong oleh penyesuaian suku bunga deposito,” kata Ming Tan, Direktur, S&P Global Ratings.
Sejumlah bank besar juga mulai menghapus produk deposito berjangka lima tahun yang menawarkan imbal hasil tinggi guna menekan biaya dana. Suku bunga deposito tiga tahun kini turun ke sekitar 1,5% pada awal 2026, hampir setengah dari level 2023.
Ke depan, bank-bank di China berencana meningkatkan penyaluran kredit ke sektor teknologi dan perusahaan berbasis inovasi, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong adopsi kecerdasan buatan.
Meski prospek perbaikan mulai terlihat, ketidakpastian global tetap tinggi. Konflik di Timur Tengah memengaruhi arah suku bunga dan pertumbuhan ekonomi, sehingga investor akan mencermati pandangan perbankan terkait pertumbuhan kredit, margin, dan kualitas aset.
Analis CITIC Futures menilai peluang penurunan suku bunga di China masih terbuka seiring tekanan dari harga minyak yang tinggi. Stabilitas margin dinilai memberi ruang bagi pelonggaran kebijakan lebih lanjut.
Setelah mencatat pertumbuhan sekitar 5% pada 2025 yang didorong ekspor, ekonomi China diperkirakan melambat menjadi 4,5% pada 2026 di tengah tantangan struktural, friksi dagang, dan ketidakpastian geopolitik.(DH)