FTTH dongkrak pendapatan, laba WIFI melonjak 77% di 2025

Rabu, 25 Maret 2026

image

JAKARTA – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), emiten infrastruktur digital terafiliasi Hashim Djojohadikusumo, mencetak lonjakan laba hingga 76,9% secara tahunan di akhir Desember 2025, mendarat di angka Rp408,5 miliar.

Kenaikan pesat ini didorong meroketnya pendapatan neto Perseroan hingga 147% menjadi Rp1,7 triliun, seiring bisnis fiber to the home (FTTH) yang tercatat perdana menghasilkan pendapatan hingga Rp541,1 miliar tahun ini.

Pendapatan WIFI dari bisnis bandwidth juga melonjak hingga 146,9% menjadi Rp560,8 miliar – menjadikan bandwidth dan FTTH pilar utama pendapatan WIFI di segmen telekomunikasi.

Selain itu, kontribusi segmen periklanan juga bertumbuh 36,4% menjadi Rp459,5 miliar pada tahun 2025.

Sebagai catatan, pada tahun 2025, Perseroan memang tengah merencanakan ekspansi jaringan FTTH melalui dana rights issue Rp5,9 triliun, serta suntikan modal Rp1 triiun dari NTT e-Asia untuk PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE).

Namun, terbaru, WIFI berencana merealokasikan dana rights issue tersebut untuk pengembangan proyek 5G FWA 1,4 GHz, atau yang lebih dikenal dengan Internet Rakyat (IRA) oleh anak usahanya, PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP).

Berdasarkan laporan IDNFinancials.com, WIFI memilih memprioritaskan dana tersebut untuk program IRA yang baru saja diluncurkan dibandingkan jaringan FTTH, karena ekspansi jaringan fiber memerlukan modal yang lebih masif.

Di sisi lain, program IRA diproyeksikan dapat menggenjot arus kas Perseroan lebih mudah dan lebih cepat dalam jangka menengah.

Merujuk pada laporan keuangan Perseroan, beban pokok pendapatan juga membengkak seiring lonjakan pendapatan.

Namun, WIFI berhasil mendongkrak margin laba kotor dari 61,7% menjadi 67,9% pada akhir 2025, meski margin laba bersih justru ambles dari 34,4% menjadi 24,6%.

Dari segi neraca keuangan, WIFI mencatatkan lonjakan signifikan pada aset dan liabilitas. Total aset meroket hingga 422% menjadi Rp15,2 triliun, setelah rights issue Rp5,9 triliun, suntikan modal NTT e-Asia, dan penerbitan obligasi dan sukuk.

Sementara itu, liabilitas juga meningkat 243% menjadi Rp6,6 triliun, setelah penerbitan obligasi dan sukuk oleh IJE. “Yang digunakan untuk untuk pelunasan fasilitas Bank BNI, Obligasi I, belanja modal serta modal kerja IJE,” jelas Yune Marketatmo, Direktur Utama WIFI, dalam keterangan resmi, Rabu (25/3). (ZH)