AS akhiri perang, harga tembaga dan logam industri menguat
Rabu, 25 Maret 2026

JAKARTA - Harga tembaga bersama sebagian besar logam lainnya menguat seiring meningkatnya optimisme terhadap upaya diplomatik Washington untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, yang turut mendorong minat investor terhadap aset berisiko.
Logam industri tersebut sempat melonjak hingga 2% di London Metal Exchange setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran telah memberikan sebuah “isyarat” sebagai bentuk itikad baik dalam negosiasi mengakhiri konflik.
Seperti dikutip Bloomberg, meski demikian, AS tetap mengirim tambahan pasukan ke kawasan tersebut, sementara laporan Axios menyebutkan bahwa Washington dan sejumlah mediator regional masih menunggu respons dari Iran.
Pernyataan Trump cukup untuk mengangkat harga logam, menghentikan tren penurunan sebelumnya yang dipicu kekhawatiran bahwa konflik akan mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Sepanjang pekan ini, harga tembaga tercatat naik sekitar 3% setelah sebelumnya anjlok sekitar 11% dalam tiga pekan terakhir.
Menurut Li Xuezhi, kepala riset di Chaos Ternary Futures, perkembangan konflik masih sulit diprediksi dan informasi yang beredar cenderung beragam.
Ia menilai selama konflik belum benar-benar berakhir, risiko koreksi harga logam dasar masih tetap ada. Oleh karena itu, pihaknya memilih bersikap hati-hati dan menunggu dari pinggir pasar.
Di sisi lain, aluminium menjadi satu-satunya logam yang mengalami penurunan di LME pada Rabu.
Kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 9% kapasitas produksi aluminium global, dan terganggunya jalur pengiriman akibat penutupan efektif Selat Hormuz telah membatasi distribusi.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga kuartal kedua menjadi US$3.200 per ton dari sebelumnya US$3.100, dengan catatan bahwa gangguan pasokan kemungkinan akan diimbangi oleh melemahnya permintaan global.
Pada perdagangan terbaru, harga tembaga naik 1,2% menjadi US$12.246 per ton di LME hingga pukul 11:03 waktu Shanghai.
Seng meningkat 0,7%, sementara aluminium turun 0,6% menjadi US$3.242,50 per ton. Bijih besi juga melemah 2,4% ke level US$105,05 per ton di Singapura. (DK)