Free float terpenuhi, RSGK sentuh ARA usai lepas dari suspensi setahun
Rabu, 25 Maret 2026

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) telah resmi mengangkat suspensi atas saham PT Kedoya Adyaraya Tbk (RSGK), emiten pengelola Rumah Sakit EMC Grha Kedoya, hari ini, Rabu (25/3), setelah nyaris 14 bulan dibekukan.
“Bursa mencabut Suspensi Perdagangan Efek Perseroan di Pasar Reguler Periodic Call Auction dan Pasar Tunai Periodic Call Auction mulai Sesi 1 Call Auction Perdagangan Efek hari Rabu, 25 Maret 2026,” ujar BEI dalam keterangan tertulis.
Usai lepas dari suspensi, saham RSGK tampak melesat 9,7% hingga akhir perdagangan sesi I, atau menyentuh batas auto-reject atas (ARA) pada papan Full Call Auction (FCA).
Berdasarkan keterangan BEI, perdagangan saham RSGK telah dihentikan sementara sejak 31 Januari 2025, karena “tidak terpenuhinya free float dan atau jumlah pemegang saham.”
Saat itu, saham masyarakat hanya 7,03% dan porsi free float RSGK hanya sebesar 6,55% — tidak mencapai batas 7,5% seperti yang ditetapkan regulator pasar modal.
Saat itu, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), lengan bisnis rumah sakit milik Grup Emtek, mengendalikan hingga 79,84%, sementara PT Bestama Medikacenter memiliki 13,13%.
Namun, pada 6 dan 11 Maret 2026, SAME telah menjual total 23,5 juta lembar saham atau setara dengan 2,53% saham RSGK di harga Rp880-885 per lembar, sehingga porsinya menyusut menjadi 77,31%.
Kini, berdasarkan data dari Biro Administrasi Efek (BAE) RSGK, porsi saham masyarakat (di bawah 5%) meningkat menjadi 9,56%.
Namun, per akhir Februari 2026, PT Intimanunggal Multi Development juga tercatat memegang 2,34% saham RSGK, sedangkan Komisaris RSGK Hengkang Sutedja memiliki 1,53% — menyisakan sekitar 5,69% saham bagi publik (di bawah 1%).
Di sisi lain, dari segi kinerja keuangan, RSGK melaporkan penurunan laba bersih hingga 13,1% secara tahunan pada 2025, menjadi Rp34,5 miliar, meski pendapatan naik 6,5% menjadi Rp469,6 miliar. (ZH)