Lelang 'sepi', yield obligasi Amerika tenor 2 tahun melonjak
Rabu, 25 Maret 2026

JAKARTA - Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek melonjak setelah lelang yang mengecewakan, mencerminkan lemahnya permintaan investor.
Dikutip cnbc, yield obligasi tenor 2 tahun naik lebih dari 9 basis poin menjadi 3,925% pada Selasa, setelah lelang senilai US$69 miliar mencatat rasio bid to cover investor hanya 2,44, angka terendah sejak Mei 2024. Permintaan dari pembeli langsung juga tercatat paling lemah sejak Maret 2025.
Kenaikan imbal hasil berlanjut di tenor lebih panjang. Yield 10 tahun naik ke 4,392%, sementara tenor 30 tahun mencapai 4,956%. Pergerakan ini sejalan dengan meningkatnya volatilitas harga minyak dan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pasar saat ini lebih fokus pada tekanan inflasi dibanding risiko perlambatan ekonomi, terutama dengan belum meredanya ketegangan di Iran yang berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi.
“Pasar terus memprioritaskan kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat dibandingkan kekhawatiran pertumbuhan ekonomi apa pun. Dan dengan masih belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan di Iran, dan dengan demikian potensi harga minyak yang lebih tinggi, jalur termudah bagi imbal hasil tetaplah lebih tinggi,” kata Lawrence Gillum dari LPL Financial.
Harga minyak yang kembali menguat pada Selasa turut mendorong kenaikan yield, setelah sebelumnya sempat turun tajam. Pelaku pasar menilai ulang dinamika konflik yang belum menunjukkan arah penyelesaian.
“Risiko utama tetap tinggi karena perang terus berlanjut tanpa adanya jalan keluar yang jelas,” tulis Ian Lyngen dari BMO, seraya menambahkan bahwa pergerakan suku bunga AS akan sangat mempengaruhi harga energi.
Sebelumnya, harga minyak sempat turun setelah Presiden Donald Trump menyebut adanya pembicaraan “sangat baik dan produktif” antara AS dan Iran serta menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Namun, penguatan kembali harga minyak menunjukkan pasar masih meragukan meredanya ketegangan, terutama setelah Iran membantah adanya pembicaraan tersebut.
Ketidakpastian yang dipicu oleh perbedaan pernyataan terus menekan sentimen, membuat pasar obligasi dan energi tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik.(DH)