Amerika sulit lumpuhkan Iran karena miliki banyak stok calon pemimpin
Rabu, 25 Maret 2026
JAKARTA - Kematian sejumlah tokoh elite Iran akibat serangan Amerika dan Israel tidak langsung melumpuhkan pemerintahan. Struktur kekuasaan berlapis membuat sistem tetap berjalan, dengan peran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang kini semakin dominan.
Dikutip cnbc, sejak awal, Republik Islam Iran dirancang dengan distribusi kekuasaan antar-lembaga. Sistem yang lahir dari Revolusi 1979 tidak bergantung pada satu figur, melainkan ditopang institusi yang saling menjaga stabilitas rezim.
Dalam struktur formal, posisi pemimpin tertinggi tetap menjadi pusat kekuasaan. Setelah Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan awal perang, posisinya beralih ke putranya, Mojtaba Khamenei. Namun, Mojtaba belum menunjukkan otoritas yang setara dengan pendahulunya.
Kondisi fisiknya juga memicu spekulasi. Ia dilaporkan mengalami luka dan hanya muncul melalui dua pernyataan tertulis tanpa kehadiran publik, memunculkan pertanyaan soal kapasitas kendalinya.
Di tengah situasi tersebut, IRGC mengambil peran lebih besar dalam pengambilan keputusan strategis. Dalam beberapa dekade terakhir, pengaruh militer ini memang terus menguat, dan kini menjadi faktor utama dalam menjaga kesinambungan kekuasaan.
Struktur organisasi IRGC dirancang untuk menghadapi skenario krisis. Pola komando berlapis memungkinkan pergantian cepat ketika pemimpin gugur. Setiap unit tetap dapat beroperasi sesuai rencana tanpa bergantung pada satu komando pusat.
Pengalaman panjang dalam perang Iran-Irak serta keterlibatan di berbagai konflik regional memperkuat kapasitas IRGC dalam menjaga stabilitas militer. Meski sejumlah komandan tewas, rantai komando tetap berjalan.
Kombinasi struktur politik berlapis dan dominasi militer membuat Iran tetap berfungsi meski kehilangan sejumlah elite kunci. Sejumlah tokoh kunci yang kini memegang peran penting antara lain adalah: