Menkeu: Jepang siap stabilkan valas, termasuk jual obligasi AS?

Rabu, 25 Maret 2026

image

TOKYO - Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyatakan pemerintah siap mengambil semua langkah yang diperlukan “di semua front”, meski belum mengonfirmasi kemungkinan intervensi di pasar berjangka minyak mentah.

Pernyataan ini muncul setelah laporan Reuters menyebut pemerintah Jepang mempertimbangkan turun tangan di pasar minyak karena krisis di Timur Tengah mendorong harga energi naik tajam.

“Pergerakan spekulatif di pasar minyak juga memengaruhi pasar valuta asing,” kata Katayama, mengutip dari channelnewsasia.

“Kami bertekad mengambil tindakan menyeluruh setiap saat dan di semua front, demi stabilitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.”

Tekanan ekonomi kini terasa nyata di Jepang. Sejak dimulainya perang Amerika di Iran awal 2026, yen mendekati 159,5 per dolar, nyaris menembus ambang kritis 160 per dolar yang biasanya memicu intervensi.

Harga minyak Brent pun melonjak di atas US$113 per barel, naik lebih dari 50% sejak konflik dimulai, mengutip dari salah satu channel Youtube.

Lonjakan harga energi sekaligus melemahnya yen membuat biaya hidup bagi konsumen dan industri meningkat drastis; harga minyak US$110 per barel kini terasa seperti US$130–$140.

Opsi menaikkan suku bunga hampir tak mungkin dilakukan karena beban utang Jepang yang sangat tinggi.

Diperkirakan, biaya bunga pemerintah akan mencapai 41,3 triliun yen pada fiskal 2029, setara 30% dari anggaran negara.

Sementara itu, yield obligasi 10-tahun diperkirakan naik ke 3,6%, jauh lebih tinggi dari posisi sebelum perang.

>> Jual Obligasi AS

Pilihan terakhir Tokyo adalah menjual obligasi AS untuk mendapatkan dolar, kemudian membeli yen guna menstabilkan ekonomi domestik.

Jepang sendiri telah menambah kepemilikan obligasi AS sebesar US$39,8 miliar antara Desember 2025 dan Januari 2026, sehingga likuiditas tersedia tanpa merusak pasar obligasi.

Langkah ini tentu menimbulkan risiko global. Di sisi lain, Pentagon meminta tambahan US$200 miliar untuk perang di Iran, sementara defisit fiskal AS sudah besar.

Yield obligasi 10-tahun AS saat ini mencapai 4,41%, dan prospek kenaikan suku bunga menambah tekanan.

Jika Jepang menjual obligasi secara besar-besaran, harga obligasi AS bisa jatuh, yield naik, dan tekanan ekonomi global meningkat.

Intervensi juga berpotensi memicu efek domino di pasar global, termasuk mekanisme carry trade yen yang nilainya diperkirakan antara US$260 miliar hingga US$1 triliun.

Sejarawan dan pengamat ekonomi menyoroti dilema yang dihadapi Jepang: memilih mendukung stabilitas finansial AS atau melindungi ekonomi domestik.

Jepang pernah menjual obligasi AS pada 1997, tapi situasi kini lebih rumit karena kombinasi harga minyak tinggi dan pelemahan yen.

Jika yen menembus level 160 dan bertahan lebih dari 48 jam, atau Kementerian Keuangan Jepang mengumumkan intervensi mata uang, dunia bisa menyaksikan langkah penting pertama dalam pergeseran global dari dominasi dolar.  (DK)