Yield naik dan minyak melonjak, Wall Street terseret turun

Rabu, 25 Maret 2026

image

JAKARTA - Indeks saham utama di Wall Street ditutup melemah dalam perdagangan Selasa (24/3), di tengah tarik menarik sentimen antara kenaikan harga minyak dan harapan meredanya konflik Timur Tengah.

Dikutip reuters, yield obligasi AS naik setelah lelang tenor 2 tahun mencatat permintaan lemah, menambah tekanan pada pasar ekuitas. Di saat yang sama, harga minyak menguat lebih dari 4% seiring kekhawatiran konflik Timur Tengah akan berlarut.

Indeks sempat mengurangi pelemahan setelah Presiden Donald Trump menyebut AS tengah berbicara dengan “pihak yang tepat” di Iran untuk mengakhiri konflik. Namun, laporan rencana pengiriman tambahan pasukan AS ke Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran perang berkepanjangan dan harga energi tinggi.

“Saham mencoba menemukan pijakan karena investor memantau media sosial dan setiap berita utama. Kami sangat berorientasi jangka pendek,” kata Carol Schleif dari BMO.

“Pasar mencoba mempertahankan optimisme dari kemarin. Mereka ingin segera keluar dari isu perang meski belum sepenuhnya jelas,” ujarnya. Namun ia menambahkan, “Ada banyak kegelisahan. Investor memantau minyak dan suku bunga, khawatir keduanya akan bertahan tinggi lebih lama dan mulai menekan pertumbuhan.”

Kevin Gordon dari Schwab Center for Financial Research menilai kombinasi kenaikan harga energi dan suku bunga menciptakan tekanan ganda bagi pasar. “Lingkungan saat ini sangat minim keyakinan. Tidak banyak yang ingin mengambil posisi risiko besar, baik overweight maupun underweight,” ujarnya.

Secara keseluruhan, indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq kompak ditutup di zona merah. Sektor energi menjadi satu-satunya penopang utama seiring kenaikan harga minyak, sementara sektor komunikasi dan teknologi mencatat penurunan terdalam.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap sektor kredit swasta kembali mencuat setelah laporan pembatasan penarikan dana oleh Ares Management dan Apollo Global Management. Saham sejumlah manajer aset alternatif ikut tertekan.

Data terbaru juga menunjukkan aktivitas bisnis AS melambat ke level terendah dalam 11 bulan pada Maret, dipicu kenaikan biaya energi dan input produksi. Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter. Federal Reserve sebelumnya memberi sinyal sikap hawkish, dengan proyeksi pemangkasan suku bunga yang terbatas.

Pelaku pasar kini mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini, bahkan mulai mempertimbangkan peluang kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi berlanjut.

Di level emiten, saham Jefferies menguat setelah muncul kabar potensi akuisisi oleh Sumitomo Mitsui Financial Group. Sebaliknya, saham Estee Lauder anjlok setelah perusahaan mengonfirmasi pembicaraan merger dengan grup Puig. Barclays tetap optimistis dengan menaikkan target S&P 500 untuk 2026, didukung proyeksi kinerja laba yang lebih kuat meski risiko makro masih tinggi.(DH)