Trump redakan ketegangan Iran, minyak anjlok 15% dalam hitungan menit
Kamis, 26 Maret 2026

JAKARTA - Aktivitas perdagangan di pasar minyak melonjak tajam sesaat sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Dikutip reuters, data bursa dan perhitungan Reuters menunjukkan trader menempatkan posisi lebih dari US$500 juta hanya dalam selang 15 menit sebelum pengumuman tersebut.
Trump sebelumnya memberi tenggat kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi ancaman bahwa fasilitas energinya akan “dihancurkan”. Unggahan Trump di Truth Social pada pukul 11.05 GMT langsung memicu aksi jual besar di pasar minyak dan gas.
Harga minyak Brent turun hingga 15% dalam hitungan menit setelah Trump menyebut adanya pembicaraan konstruktif antara Washington dan Teheran. Sinyal de-eskalasi mendorong pelaku pasar memperhitungkan potensi kembalinya pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Data LSEG mencatat pada pukul 10.49–10.50 GMT, sebanyak 5.100 kontrak futures Brent dan WTI berpindah tangan dengan nilai lebih dari US$500 juta. Transaksi dalam satu menit itu didominasi aksi jual, namun identitas pelaku tidak terungkap.
Lonjakan volume meningkat signifikan setelah pengumuman Trump. Dalam 60 detik pada pukul 11.05 GMT, lebih dari 13.000 kontrak setara 13 juta barel minyak diperdagangkan. Harga Brent turun ke sekitar US$99 per barel dari sebelumnya US$112, sementara WTI melemah ke US$86 dari kisaran US$99.
Intercontinental Exchange dan CME Group belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. U.S. Securities and Exchange Commission juga menolak berkomentar, sementara Commodity Futures Trading Commission belum dapat dihubungi.
Meski harga turun setelah pengumuman, level minyak masih lebih dari 40% di atas posisi sebelum konflik yang memangkas sekitar seperlima pasokan global. Volume transaksi harian juga meningkat tajam, dari rata-rata 300.000 kontrak dalam tiga tahun terakhir menjadi lebih dari 1 juta kontrak dalam empat pekan terakhir.
Harga Brent saat ini berada di bawah US$104 per barel, seiring ketidakpastian dampak konflik terhadap ekonomi global dan belum jelasnya arah negosiasi, setelah Iran membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS.(DH)