Transaksi tanpa dolar antara China, Malaysia, Thailand dan RI melonjak
Kamis, 26 Maret 2026

KUALA LUMPUR - Malaysia mencatat nilai perdagangan dan pembayaran investasi sebesar RM82,1 miliar dengan China, Thailand, dan Indonesia yang dilakukan menggunakan mata uang lokal hingga November 2025.
Seperti dikutip Malaysia News Yahoo, angka ini melonjak tajam dibandingkan hanya RM3,6 miliar pada tahun 2009.
Menteri Keuangan Datuk Seri Anwar Ibrahim mengungkapkan data tersebut dalam jawaban tertulis kepada anggota parlemen Bagan, Lim Guan Eng, yang menanyakan alternatif terhadap sistem SWIFT yang didominasi dolar AS.
Menurut Anwar, Bank Negara Malaysia (BNM) telah mengambil langkah proaktif untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan lintas negara.
Upaya ini bertujuan mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan keuangan. Dengan China, penggunaan renminbi dan ringgit dalam penyelesaian perdagangan meningkat hingga 25,6% dari total perdagangan pada akhir 2025.
Skema serupa dengan Thailand dan Indonesia juga mendorong peningkatan transaksi dalam mata uang lokal.
Ia juga menyebutkan bahwa Malaysia sedang mengeksplorasi pendekatan baru melalui mata uang digital bank sentral (CBDC), termasuk keterlibatan dalam Project Dunbar yang menguji pembayaran lintas negara menggunakan CBDC wholesale.
Pemerintah bersama BNM, kata Anwar, akan terus memperluas dan memperkuat mekanisme penyelesaian menggunakan mata uang lokal guna mendukung perdagangan, investasi, serta keberlanjutan sistem keuangan regional.
Di sisi lain, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengingatkan bahwa meningkatnya ketegangan global, termasuk konflik yang melibatkan Iran, menjadi peringatan bahwa Malaysia tidak boleh lengah terhadap isu keamanan nasional.
Saat berpidato dalam peringatan Hari Polisi ke-219 di Pusat Latihan Polisi (Pulapol), Anwar menegaskan bahwa situasi global yang kompleks memerlukan pemahaman mendalam, terutama oleh Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM), mengingat potensi dampak keamanan dari ketidakstabilan internasional.
Ia menekankan bahwa meskipun Malaysia relatif aman dan stabil dengan prospek pertumbuhan yang kuat, hal tersebut tidak boleh membuat negara mengabaikan potensi ancaman yang muncul.
Anwar juga mengingatkan bahwa dalam situasi konflik global, berbagai bentuk tekanan dan keputusasaan dapat muncul, sehingga aparat perlu tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan.
Peringatan tersebut, katanya, didasarkan pada hasil taklimat serta pertukaran pandangan dengan mitra internasional dan lembaga intelijen negara.
Ia menegaskan bahwa kepolisian harus terus meningkatkan kesiapan dalam menghadapi potensi ancaman, karena perkembangan di luar negeri dapat berdampak tidak langsung pada keamanan domestik.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait konflik yang melibatkan Iran, yang memicu kekhawatiran global terhadap gangguan ekonomi dan risiko keamanan. (DK)