Laba NICL tumbuh 8,3% meski pelanggan jumbo bergeser
Kamis, 26 Maret 2026

JAKARTA – PT Pam Mineral Tbk (NICL), emiten tambang nikel yang beroperasi di Sulawesi, mencetak laba bersih Rp344,5 miliar pada 2025.
Perolehan itu meningkat 8,3% secara tahunan atau dari Rp318 miliar pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan pada Kamis (26/3) hari ini, pertumbuhan laba NICL sejalan dengan kinerja penjualan yang meningkat 2,12% secara tahunan menjadi Rp1,47 triliun pada 2025.
Di sisi lain, beban pokok penjualan emiten milik Christopher Tjia ini, turun 5,68% secara tahunan menjadi Rp871 miliar di 2025.
Di luar bisnis inti, NICL mencatat lonjakan pada beban umum dan administrasi, serta beban lain-lain bersih pada 2025. Namun lonjakan ini tak berdampak signifikan pada laba bersih perseroan, karena diimbangi penghasilan bunga yang lebih tinggi.
Pada 2025, terdapat 3 pelanggan dengan kontribusi di atas 10% terhadap total penjualan NICL. Ketiganya yaitu PT Marin Mitra Nusantara, PT Xingda Trading Indonesia, dan PT Longsen Metal Trading. Pelanggan terbesar di antara ketiganya adalah Marin Mitra Nusantara, yang menyumbang Rp771,62 miliar atau setara 52,38% dari total penjualan.
Sedangkan pada 2024, terdapat 4 pelanggan dengan kontribusi di atas 10%, yaitu PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, PT Lestari Smelter Indonesia, PT Marin Mitra Nusantara, dan PT Xingda Trading Indonesia. Pelanggan terbesar dari keempatnya adalah Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry dengan nilai penjualan sebesar Rp242,40 miliar atau 16,80% dari total penjualan.
Namun Indonesia Guan Ching Nickel tak lagi menjadi pelanggan dengan kontribusi di atas 10% terhadap total penjualan NICL pada 2025.
Struktur pemegang saham NICL menunjukkan konsentrasi pada beberapa pihak. PT Pam Metalindo menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 43,23%, diikuti PT Artha Perdana Investama sebesar 28,82%.
Pemegang saham lainnya meliputi Veronica Pudjiati Lias sebesar 3,51%, Dianita 3,39%, serta Robby Widjaja 2,99%. Selanjutnya Sansan memiliki 1,71%, Dyah Citra Imi 1,61%, dan Leonardus Sutarman 1,36%.
Sementara ultimate beneficial owner NICL adalah Christopher Sumasto Tjia. (KR)