Moller-Maersk: Timur Tengah butuh impor makanan mendesak

Kamis, 26 Maret 2026

image

JAKARTA - Kawasan Timur Tengah menghadapi tekanan pasokan pangan setelah konflik di Teluk mengganggu arus logistik global. A.P. Moller-Maersk menyebut kebutuhan impor makanan menjadi mendesak di tengah terhentinya pengiriman.

Dikutip reuters, menurut World Economic Forum, negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab mengimpor hingga 85% kebutuhan pangan mereka.

Konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, disusul respons militer Iran dan penutupan Selat Hormuz, membuat aktivitas pelayaran di kawasan Teluk nyaris berhenti. Dampaknya meluas ke rantai pasok global.

Maersk menghentikan sementara pemesanan kargo ke sejumlah pelabuhan di Teluk dan menerapkan biaya tambahan bahan bakar untuk menutup kenaikan ongkos operasional. Ketua Maersk Robert Maersk Uggla mengatakan perusahaan tetap menjaga layanan logistik penting dengan lebih dari 6.000 karyawan di kawasan tersebut.

"Ini mencakup kebutuhan mendesak untuk impor pangan, yang sering menggunakan solusi rantai dingin seperti kontainer reefer Maersk, sebuah segmen di mana kami menjadi pemimpin pasar di kawasan ini," ujarnya dalam rapat umum pemegang saham. "Karena Selat Hormuz saat ini ditutup, kami mencoba mencari cara lain untuk membawa kargo ke kawasan Teluk," tambahnya.

Di sisi lain, perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd melaporkan tambahan biaya operasional sebesar 40 juta hingga 50 juta dolar AS per minggu akibat krisis Iran. Kenaikan dipicu biaya bahan bakar, premi asuransi, dan penyimpanan kontainer.(DH)