Produsen bir India waspadai kekurangan botol kaca dan kaleng aluminium
Kamis, 26 Maret 2026

NEW DELHI - Produsen bir global yang beroperasi di India memperingatkan kenaikan harga dan gangguan pasokan karena perang di Iran memicu kekurangan gas, menaikkan biaya botol kaca, serta keterlambatan impor aluminium untuk pembuatan kaleng.
Seperti dikutip Reuters, India sangat rentan terhadap pasokan bahan bakar karena menjadi importir gas alam terbesar ke-4 di dunia, dengan sekitar 40% kebutuhan berasal dari Qatar.
Serangan Iran telah mengganggu sebagian kapasitas ekspor Qatar, sehingga pasokan gas bagi produsen India semakin terbatas.
Brewery Association of India, yang mewakili Heineken, Anheuser-Busch InBev, dan Carlsberg, mengatakan harga botol kaca melonjak sekitar 20%, karton kertas dua kali lipat, dan bahan kemasan lain seperti label dan selotip juga naik.
Gas sangat penting untuk menjaga furnace dan jalur produksi berjalan, sehingga beberapa pabrik botol kaca harus menghentikan operasi sebagian atau seluruhnya.
Pemasok kaleng aluminium juga memperingatkan kemungkinan pengurangan pasokan menjelang musim panas, ketika penjualan bir biasanya meningkat.
“Permintaan kenaikan harga berkisar 12–15%,” kata Vinod Giri, Direktur Jenderal asosiasi.
“Kami menyarankan perusahaan anggota untuk mengajukan secara individu ke pemerintah negara bagian.”
Ia menambahkan, kenaikan biaya produksi membuat beberapa operasi menjadi tidak berkelanjutan.
Pasar bir India senilai US$7,8 miliar pada 2024, dan diperkirakan akan dua kali lipat pada 2030 menurut Grand View Research.
Heineken menguasai sekitar setengah pasar, sedangkan AB InBev dan Carlsberg masing-masing 19%. Selain tiga raksasa ini, pemain lokal seperti Bira dan Simba juga hadir di pasar.
Penjualan bir dan minuman keras di India meningkat seiring urbanisasi dan populasi muda yang lebih kaya.
Confederation of Indian Alcoholic Beverage Companies telah meminta beberapa negara bagian untuk menyesuaikan harga guna mengimbangi biaya logistik dan bahan baku.
Karena regulasi ketat, sekitar dua pertiga dari 28 negara bagian India harus menyetujui kenaikan harga eceran.
Beberapa vendor botol kaca sudah memperingatkan klien akan berkurangnya pasokan dan menaikkan harga.
Nitin Agarwal, CEO Fine Art Glass Works di Firozabad, mengatakan produksi botol dikurangi 40% karena kekurangan gas, dengan kenaikan harga 17–18%. Pelanggan termasuk produsen minuman keras, jus, dan botol saus tomat.
Krisis ini juga sudah mempengaruhi pasar air kemasan senilai US$5 miliar, dengan beberapa produsen menaikkan harga 11% karena harga botol dan tutup plastik meningkat.
Bahkan produsen minuman Korea Selatan Lotte Chilsung Beverage menyatakan memiliki persediaan plastik untuk tiga bulan ke depan, menandakan situasi yang serius. (DK)