BMO: Reli emas belum berakhir, hanya tertunda selama perang Iran

Kamis, 26 Maret 2026

image

JAKARTA - Investor semakin kecewa karena harga emas tertekan di tengah gejolak di Timur Tengah, tetapi Bank of Montreal (BMO) menegaskan bahwa reli bull emas belum berakhir, hanya tertunda sementara.

“Konflik Iran tidak menghapus dasar struktural untuk logam dan pertambangan, justru menambah bobotnya,” kata analis BMO.

“Tinggal menunggu kapan pasar yakin konflik ini terselesaikan sebelum risiko kembali masuk.”

Seperti dikutip Kitco, BMO baru-baru ini memperbarui proyeksi harga emas dan perak.

Menurut bank asal Kanada itu, harga emas diperkirakan rata-rata US$4.800 per ounce pada kuartal ketiga 2026, naik 7% dari perkiraan sebelumnya, dan US$4.900 per ounce pada kuartal keempat, naik 9%.

Untuk keseluruhan tahun, rata-rata harga emas diperkirakan US$4.846 per ounce, naik dari perkiraan sebelumnya US$4.550.

“Momentum bullish pasar hanya tertunda, bukan berbalik arah,” tambah para analis.

BMO bahkan sangat optimistis untuk jangka panjang hingga 2027, dengan harga emas diperkirakan tetap di atas US$5.000 per ounce dan rata-rata tahunan US$5.125, naik 26% dari perkiraan sebelumnya.

BMO juga tetap bullish terhadap perak, meski lebih volatil. Mereka memperkirakan harga perak rata-rata US$70,60 per ounce pada kuartal ketiga 2026, naik 28%, dan US$68,10 per ounce pada kuartal keempat, naik 31%.

Untuk keseluruhan tahun, rata-rata harga perak diprediksi US$74,50 per ounce, naik 32%. “Tahun depan bisa menjadi puncak harga perak, dengan rata-rata sekitar US$64,20 per ounce,” kata para analis.

Analis BMO menekankan bahwa emas dan perak tetap rentan terhadap perubahan sentimen investor ritel.

“Investor ritel menyumbang sekitar 60% aliran ETF, jadi psikologi mereka, terutama terkait momentum, akan sangat mempengaruhi harga emas dalam beberapa bulan ke depan,” kata mereka.

“Historisnya, emas biasanya naik lebih baik di awal konflik besar dibanding perang Iran kali ini. Namun, banyak yang berbeda sekarang, terutama karena harga emas telah meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir akibat aliran investasi spekulatif dan strategis.”

Meskipun harga perak diperkirakan terus naik, analis lebih berhati-hati karena perang di Timur Tengah menekan aktivitas ekonomi global dan mengurangi permintaan industri.

“Argumen untuk aset fisik tetap kuat pada 2026, tetapi logam selain emas kurang efektif sebagai pengganti, dan diskon terhadap emas diperkirakan akan terus melebar,” tutup para analis. (DK)