Jepang intervensi pasar minyak, 80 juta barel minyak dilepas ke pasar
Jumat, 27 Maret 2026
JAKARTA - Pemerintah Jepang mulai melepas cadangan minyak strategis terbesar sepanjang sejarah pekan ini untuk menjaga pasokan energi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Perdana Menteri, Sanae Takaichi menyatakan langkah ini diambil sebagai respons atas potensi gangguan distribusi melalui Selat Hormuz.
Dikutip TheGuardian, pelepasan mencakup sekitar 80 juta barel atau setara 45 hari kebutuhan domestik, yang akan disalurkan ke kilang dalam negeri. Pemerintah sebelumnya juga menyetujui pelepasan cadangan sektor swasta setara 15 hari konsumsi.
Jepang mengimpor lebih dari 90% minyak mentahnya dari Timur Tengah, sehingga sangat bergantung pada kelancaran jalur distribusi di kawasan tersebut. Hingga akhir tahun lalu, total cadangan minyak Jepang tercatat sekitar 470 juta barel, setara 254 hari konsumsi domestik.
Takaichi menegaskan stabilitas kawasan menjadi kepentingan utama. Ia mengatakan Jepang akan terus “melakukan semua upaya diplomatik yang diperlukan dalam koordinasi erat dengan negara-negara terkait”.
Dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Washington, ia juga menegaskan konstitusi pascaperang Jepang tidak memungkinkan pengiriman pasukan ke Selat Hormuz.
Di sisi domestik, pemerintah menetapkan subsidi untuk menahan harga bensin di kisaran ¥170 per liter, setelah harga eceran sempat mencapai rekor ¥190,8 per liter. Skema subsidi akan dievaluasi setiap pekan mengikuti pergerakan harga minyak.
Ketidakpastian pasokan memicu kekhawatiran publik terhadap ketersediaan barang kebutuhan rumah tangga. Kementerian perdagangan dan industri meminta masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan, menyusul meningkatnya kekhawatiran di media sosial.
Pemerintah mengimbau masyarakat membuat “pengambilan keputusan rasional tentang pembelian tisu toilet berdasarkan informasi yang akurat”guna mencegah kelangkaan seperti pada awal pandemi dan krisis minyak 1973.
Asosiasi Industri Kertas Rumah Tangga Jepang menyatakan sekitar 97% tisu toilet diproduksi di dalam negeri dan tidak bergantung pada bahan baku dari Timur Tengah. Organisasi ini memastikan pasokan tetap aman dan produksi dapat ditingkatkan jika diperlukan.
Meski demikian, kekhawatiran di media sosial terus berkembang. Sejumlah pengguna mengaku mulai menimbun barang kebutuhan, sementara laporan lain menyebutkan rak toko kosong akibat lonjakan pembelian.
Harian Mainichi Shimbun mengutip pernyataan kepala asosiasi, Morio Ishizuka, “Silakan beli hanya dalam jumlah yang biasa Anda butuhkan. Kami meminta semua orang untuk berbagi informasi dengan tenang agar tidak memicu kecemasan.” (DH)