Rio Tinto tutup tambang berlian, beralih fokus ke mineral

Jumat, 27 Maret 2026

image

JAKARTA – Rio Tinto, salah satu perusahaan tambang dengan pendapatan terbesar di dunia, telah menutup tambang berlian terakhirnya di Kanada.

Penutupan tambang berlian ini sejalan dengan strategi jangka panjang Rio Tinto, yang akan fokus pada komoditas seperti besi, tembaga, aluminium, dan lithium.

Sebelumnya, Rio Tinto telah menjalankan bisnis tambang berlian selama lebih dari 50 tahun, dimulai dari wilayah Kimberley, Australia.

Namun tambang berlian pertama itu ditutup pada 2020, meskipun menghasilkan berlian berwarna merah muda—yang dijual di harga premium.

Managing Director Rio Tinto, Sophie Bergeron, mengatakan sekitar 40 tahun lalu tidak banyak orang yang percaya ada berlian di Kanada.

“Untuk membuktikannya butuh visi yang jelas, keberanian, dan tekad dalam menambang berlian di tengah danau beku,” jelas Sophie, dalam keterangan resminya seperti dikutip Bloomberg.

Pada 2025 lalu, Rio Tinto kembali menghadapi tekanan bisnis berlian, akibat maraknya peredaran batu berlian sintetis di pasar. Segmen bisnis ini pun mencatat kerugian US$79 juta.

Pendapatan konsolidasi Rio Tinto pada 2025 tumbuh positif menjadi 56,6 miliar pound sterling, namun laba bersihnya sedikit tertekan menjadi 9,96 miliar pound sterling.

Harga saham Rio Tinto di Bursa Efek London berada di level 6,43 pound sterling pada penutupan perdagangan Kamis (26/3) kemarin, mencerminkan valuasi Price to Earning Ratio (PER) 13,98x. (KR)