Perang Iran tekan pasokan petrokimia, harga plastik capai tertinggi
Jumat, 27 Maret 2026

TABRIZ - Gangguan pasokan minyak dan petrokimia melalui Strait of Hormuz sejak pecahnya perang Iran telah memperketat suplai bahan kimia global dan mendorong harga plastik serta polimer ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.Produk seperti plastik digunakan luas, mulai dari komponen otomotif hingga mainan, sehingga lonjakan harga berdampak luas pada rantai industri.
Seperti dikutip Reuters, menurut Rabobank, sekitar US$20–25 miliar produk petrokimia melewati jalur tersebut setiap tahun.
Gangguan berkepanjangan berpotensi memaksa produsen meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen karena terbatasnya pasokan resin pengganti.Timur Tengah menyumbang lebih dari 40% ekspor polyethylene global pada 2025, dipimpin Arab Saudi, dan memasok hampir seluruh kawasan di luar Amerika Utara.Sejak konflik meningkat, harga polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) melonjak seiring kenaikan harga minyak mentah dan bahan baku turunannya.CEO Dow Inc., Jim Fitterling, mengatakan logistik global menjadi tidak pasti, dengan hingga 50% pasokan polyethylene terdampak, tertahan, atau terhambat akibat situasi di Timur Tengah.Para analis memperkirakan penutupan Selat Hormuz dapat mengganggu hampir 1,2 juta barel per hari ekspor nafta global, memperketat ketersediaan bahan baku utama industri petrokimia.Data London Stock Exchange Group (LSEG) menunjukkan margin penyulingan nafta di Asia melonjak di atas US$400 per ton terhadap Brent, jauh lebih tinggi dibanding sekitar US$108 sebelum konflik.Kenaikan tajam ini mencerminkan meningkatnya premi risiko, terutama bagi Asia yang sangat bergantung pada nafta sebagai bahan baku produksi plastik.Produsen plastik di Asia dan Eropa menghadapi tekanan biaya dan margin akibat ketergantungan pada impor bahan baku dari Timur Tengah.Sebaliknya, Amerika Utara relatif diuntungkan karena ketersediaan bahan baku berbasis gas alam yang lebih stabil, memberi produsen di kawasan tersebut peluang meraih keuntungan lebih tinggi di tengah lonjakan harga global. (DK)