Goldman Sachs prediksi China tumbuh 6%, buah kesabaran Xi Jinping?
Rabu, 26 November 2025

TOKYO – Pada 2025, hanya sedikit analis yang membayangkan bagaimana China bisa mengungguli Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Banyak ekonom awalnya skeptis terhadap ketahanan ekonomi China, terutama setelah Trump kembali menerapkan tarif tinggi.
Namun, seperti dikutip asiatimes.com (25/11), Presiden China Xi Jinping justru menunjukkan kesabaran strategis. Ia memanfaatkan kebutuhan Trump akan kemenangan cepat, dan dengan itu menjaga China tetap selangkah lebih maju.
Salah satu manuver terpenting adalah menunda perlombaan ekonomi yang digagas Trump selama beberapa bulan terakhir.
Akibatnya, kesepakatan dagang besar kemungkinan baru tercapai pada 2027, yang memberi waktu bagi Mahkamah Agung AS untuk menilai legalitas tarif Trump, sekaligus memberi Beijing ruang memperkuat ekonominya serta memperluas hubungan dagang dengan Eropa, Asia Tenggara, dan negara-negara Global South.
Sementara itu, tarif Trump diperkirakan menjadi beban bagi rumah tangga AS melalui inflasi yang lebih tinggi.
Ironisnya, meski menghadapi tarif, ekonomi China justru diproyeksikan tumbuh 5% tahun ini. Di waktu yang sama, pasar tenaga kerja AS berguncang dan inflasi mencapai 3%.
Goldman Sachs bahkan melihat potensi pertumbuhan hingga 6% pada 2026, sebagaimana dikutip asiatimes.com. Menurut ekonom Goldman, Andrew Tilton dan Hui Shan, kekuatan ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang agresif untuk meningkatkan daya saing manufaktur dan ekspor nasional.
Ekspor China menguat sepanjang 2025, meski tarif AS sempat naik lebih dari 100% sebelum diturunkan menjadi 30%. Ekspor dari daratan utama diperkirakan tumbuh 8% tahun ini, menegaskan bahwa produk China tetap kompetitif secara global.
Namun tantangan struktural tetap membayangi: krisis properti yang belum pulih, keuangan pemerintah daerah yang rapuh, tingginya pengangguran muda, populasi yang menua cepat, serta kecenderungan masyarakat untuk menahan konsumsi dan memilih menabung.
Janji reformasi sektor properti dan perluasan jaring pengaman sosial yang digaungkan Xi sejak 2013 juga belum memberikan hasil besar.
Meski begitu, sejarah menunjukkan bahwa bertaruh melawan China jarang menguntungkan.
Goldman menilai perlambatan properti kini mulai mereda, meski jalan pemulihannya panjang. Sejak puncak pasar 2021, investasi properti anjlok 50% dan konstruksi baru jatuh 75%, sehingga peran sektor ini terhadap PDB terus menyusut. Dengan kontribusi properti yang semakin kecil, dampak negatifnya terhadap ekonomi diperkirakan akan terus berkurang dalam beberapa tahun mendatang.
Morgan Stanley memproyeksikan pertumbuhan stabil sekitar 5% pada 2026, didorong kebijakan pemerintah yang kuat di awal tahun.
Namun pada 2027, pertumbuhan bisa turun menjadi 4,5% seiring meredanya stimulus fiskal. Oxford Economics juga menilai keberhasilan China pada 2025 semakin memperkecil skeptisisme terhadap prospek pertumbuhan 2026.
Kesimpulannya, meski masih dihadang risiko internal dan eksternal, sejumlah lembaga, termasuk Goldman Sachs, melihat bahwa ekonomi China tetap mampu menanjak. Strategi Xi yang menekankan ketahanan industri, perluasan ekspor, dan manuver diplomatik kini mulai dipandang sebagai pendekatan yang membuahkan hasil nyata di mata investor global. (DK)