Ekonom prediksi The Fed tahan suku bunga hingga September 2026
Jumat, 27 Maret 2026

WASHINGTON - Jajak pendapat Reuters menunjukkan Federal Reserve diperkirakan menahan suku bunga hingga setidaknya September 2026, meski sebagian ekonom masih berharap ada minimal satu pemangkasan pada akhir tahun ini.Seperti dikutip Reuters, prospek tersebut muncul di tengah kekhawatiran inflasi akibat perang di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi.Pasar keuangan saat ini bahkan mulai menilai peluang penurunan suku bunga tahun ini semakin kecil, dengan sebagian pelaku pasar melihat kemungkinan kenaikan suku bunga.Konflik AS-Israel dengan Iran yang telah memasuki pekan keempat memicu kenaikan harga minyak mentah lebih dari 40%, sehingga memperbesar risiko tekanan inflasi.Meski demikian, para ekonom menilai dampak lonjakan harga energi kemungkinan terbatas dan tidak berlangsung lama, walaupun inflasi sudah berada sekitar satu poin persentase di atas target 2% sebelum konflik pecah.Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun juga naik lebih dari 55 basis poin, mencerminkan ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi.Setelah mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% pekan lalu, sejumlah pejabat The Fed menegaskan risiko inflasi yang masih tinggi menjadi prioritas utama, sehingga peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dinilai kecil.Hasil polling Reuters pada 20–25 Maret menunjukkan hampir tiga perempat ekonom, atau 61 dari 82 responden, memperkirakan suku bunga tidak berubah pada kuartal berikutnya.Sekitar dua pertiga responden memperkirakan suku bunga baru turun ke kisaran 3,25%–3,50% pada pertengahan tahun, namun 55 dari 82 ekonom melihat tidak ada pemangkasan hingga setidaknya September.Ekonom senior Barclays, Jonathan Millar, menilai The Fed membutuhkan waktu lebih lama untuk yakin inflasi kembali menuju target 2%.Ia menilai bank sentral kemungkinan menunggu stabilisasi harga minyak sebelum memutuskan pemangkasan, bahkan berpotensi menundanya hingga tahun depan.Pandangan ekonom mengenai arah suku bunga hingga akhir 2026 juga beragam.Sebagian memperkirakan satu hingga dua kali pemangkasan, sementara ada yang melihat tidak ada perubahan sama sekali.Proyeksi median terbaru dari pejabat Federal Open Market Committee masih menunjukkan kemungkinan satu kali penurunan suku bunga tahun ini.Di sisi lain, tekanan politik juga muncul. Presiden AS Donald Trump, yang menunjuk Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed berikutnya, kembali mengkritik Ketua The Fed saat ini Jerome Powell karena dinilai terlalu lambat menurunkan suku bunga.Para ekonom dalam survei juga menaikkan proyeksi inflasi dalam beberapa pekan terakhir, terutama untuk inflasi utama.Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi favorit The Fed, diperkirakan meningkat masing-masing 3,3%, 3,1%, dan 2,9% secara tahunan pada kuartal kedua hingga keempat, sekitar 0,5 poin persentase lebih tinggi dibanding perkiraan dua pekan sebelumnya. (DK)