Konflik terusan Panama, China tahan puluhan kapal kargo

Sabtu, 28 Maret 2026

image

LOS ANGELES – Memanasnya perebutan kendali atas jalur strategis Terusan Panama kini memicu eskalasi konflik maritim berskala global.

Komisi Maritim Federal Amerika Serikat atau Federal Maritime Commission (FMC) menyatakan tengah memantau ketat lonjakan drastis penahanan kapal-kapal berbendera Panama oleh otoritas China.

Aksi agresif Beijing ini diyakini sebagai bentuk serangan balasan langsung atas putusan Mahkamah Agung (Supreme Court) Panama pada akhir Januari lalu yang secara sepihak membatalkan kerangka hukum pendukung konsesi bersejarah tahun 1997 milik CK Hutchison.

Putusan tersebut melucuti hak operasi perusahaan asal Hong Kong itu atas terminal Balboa dan Cristobal yang mengapit sisi Pasifik dan Atlantik di Terusan Panama, sebuah jalur krusial yang menopang lima persen dari total perdagangan maritim global.

Pembatalan konsesi ini sendiri tak lepas dari besarnya tekanan Washington yang terus berupaya membendung pengaruh China di kawasan strategis tersebut.

Seperti dikutip Reuters (27/03/2026), menyusul putusan kontroversial tersebut, pemerintah Panama langsung menunjuk dua anak perusahaan raksasa asal AS dan Eropa, yakni Maersk APM Terminals dan Terminal Investment Limited milik Mediterranean Shipping Company (MSC), sebagai operator pelabuhan sementara di bawah perjanjian berdurasi 18 bulan.

Mengingat eskalasi ini, Ketua FMC, Laura DiBella, mengungkapkan bahwa tingkat penahanan kapal berbendera Panama oleh China saat ini telah jauh melampaui batas historisnya. Berdasarkan laporan intelijen maritim Lloyd's List Intelligence, jumlah kapal yang ditahan telah mencapai hampir 70 unit hanya sejak 8 Maret lalu.

"Inspeksi intensif ini dilakukan di bawah arahan informal dan tampaknya ditujukan untuk menghukum Panama setelah pengalihan aset pelabuhan milik Hutchison," kecam DiBella dalam sebuah pernyataan resmi.

Ketegangan ini diyakini akan merambat langsung ke urat nadi ekonomi Amerika Serikat.

"Mengingat kapal-kapal berbendera Panama mengangkut porsi yang sangat berarti dari perdagangan peti kemas (containerized trade) AS, tindakan ini dapat mengakibatkan konsekuensi komersial dan strategis yang signifikan bagi pelayaran AS," tegas DiBella, seraya menambahkan bahwa FMC memiliki kewenangan hukum penuh untuk menyelidiki apakah regulasi atau praktik pemerintah asing tersebut merugikan perdagangan AS.

Di saat yang bersamaan, Kementerian Transportasi China dilaporkan telah memanggil perwakilan Maersk dan MSC ke Beijing untuk melakukan perundingan tingkat tinggi.

Sementara itu, CK Hutchison yang telah mengoperasikan pelabuhan tersebut selama hampir 30 tahun merespons dengan keras. Perusahaan menuduh otoritas Panama melakukan penyitaan aset secara ilegal dan langsung meluncurkan gugatan arbitrase internasional (international arbitration) dengan tuntutan ganti rugi lebih dari US$2 miliar.

Sengkarut geopolitik ini pada akhirnya juga mengacaukan rencana CK Hutchison untuk menjual saham mayoritas bisnis pelabuhan globalnya senilai US$23 miliar kepada konsorsium yang dipimpin oleh BlackRock dan MSC. (SF)