Likuiditas membaik, The Fed siap turunkan laju pembelian obligasi

Sabtu, 28 Maret 2026

image

NEW YORK – Pembelian Treasury bill oleh bank sentral Federal Reserve diperkirakan akan melambat signifikan mulai bulan depan sesuai rencana, kata pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan moneter di Federal Reserve Bank of New York pada Kamis.

“Penyesuaian terhadap laju pembelian bulanan kami kemungkinan akan segera terjadi,” ujar Roberto Perli, manajer System Open Market Account.

Perli mengatakan pembelian Treasury bill yang saat ini mencapai sekitar US$40 miliar per bulan kemungkinan dapat dikurangi secara signifikan setelah 15 April.

Seperti dikutip Reuters, walaupun penurunannya dapat dilakukan secara bertahap untuk mengantisipasi ketidakpastian, termasuk kebutuhan likuiditas pasar menjelang periode pembayaran pajak.

Program pembelian surat utang jangka pendek pemerintah AS ini dimulai pada akhir tahun lalu sebagai langkah untuk memulihkan likuiditas setelah bank sentral menghentikan pengurangan neraca (balance sheet) yang telah berlangsung lama.

Kebijakan pengetatan kuantitatif atau quantitative tightening (QT) telah dijalankan sejak 2022 dengan tujuan menyerap kelebihan likuiditas dari sistem keuangan. 

Melalui kebijakan tersebut, total kepemilikan aset The Fed turun dari sekitar US$9 triliun menjadi di bawah US$7 triliun.

QT dihentikan setelah likuiditas pasar menyusut hingga berpotensi mengganggu kemampuan bank sentral dalam mengendalikan suku bunga acuannya.

Untuk menjaga kondisi pasar tetap stabil, The Fed kemudian mengumumkan pembelian Treasury bill, yang juga bertujuan menyesuaikan jatuh tempo kepemilikan obligasi bank sentral dengan struktur pasar obligasi pemerintah AS.

Perli menambahkan, pembelian dalam jumlah besar sebelumnya juga dimaksudkan untuk mengantisipasi potensi tekanan likuiditas menjelang periode pembayaran pajak.

Ia menilai jika bank sentral menunggu hingga arus kas benar-benar terjadi pada April, maka pembelian obligasi harus dilakukan dalam jumlah sangat besar dalam waktu singkat, yang dinilai tidak praktis secara operasional.

Ia juga menyebut kemungkinan bank sentral menambah likuiditas lebih besar dari kebutuhan, yang dapat menekan sementara suku bunga pasar uang serta mendorong kelebihan dana masuk ke fasilitas reverse repo The Fed.

Selain itu, Perli mendorong lembaga keuangan yang memenuhi syarat untuk memanfaatkan fasilitas repo tetap (standing repo facility) guna meminjam dana tunai dari bank sentral bila diperlukan. (DK)