Brookings paparkan strategi mengecilkan neraca Federal Reserve
Sabtu, 28 Maret 2026

JAKARTA - Makalah terbaru Brookings Institution memaparkan jalan menuju neraca yang lebih kecil bagi bank sentral Amerika Serikat.
Jika Federal Reserve benar-benar ingin mengecilkan ukuran neracanya, langkah tersebut dapat ditempuh melalui perubahan regulasi, penyesuaian sistem pembayaran, serta intervensi pasar yang lebih sering oleh bank sentral.
Dalam riset yang ditulis oleh Darrell Duffie dari Stanford University Graduate School of Business, dijelaskan bahwa proses menuju neraca yang lebih kecil akan cukup kompleks dan memerlukan waktu.
Seperti dikutip Reuters, fokus utama menurut Duffie adalah menurunkan permintaan pasar yang masih sangat tinggi terhadap cadangan (reserves) bank sentral.
Untuk mengurangi kebutuhan cadangan tersebut, aturan likuiditas dapat dilonggarkan sehingga lembaga keuangan lebih nyaman menyimpan likuiditas lebih sedikit.
Selain itu, sistem pembayaran Fedwire dapat disesuaikan agar arus pembayaran masuk dan keluar perusahaan lebih selaras, sehingga kebutuhan memegang kas berlebih menjadi berkurang.
Bank sentral juga dapat menyesuaikan tingkat bunga yang dibayarkan kepada lembaga keuangan, misalnya menurunkan bunga untuk cadangan di atas batas tertentu.
Selain itu, Fed dapat lebih sering menggunakan operasi pasar terbuka sementara untuk menyuntikkan likuiditas jangka pendek, dibanding sistem saat ini yang cenderung berjalan otomatis.
Duffie menegaskan dirinya tidak mengambil posisi apakah Fed harus mengecilkan neraca atau tidak.
Menurutnya, manfaat neraca besar cukup nyata karena menyediakan likuiditas tinggi yang mendukung stabilitas sistem keuangan dan efektivitas kebijakan moneter.
Sementara itu, biaya dari neraca besar cenderung lebih sulit diukur dan kerap berkaitan dengan isu politik, termasuk kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.
Kajian ini muncul di tengah perdebatan mengenai ukuran neraca Fed, terutama setelah kritik dari Kevin Warsh, yang disebut akan menggantikan Jerome Powell saat masa jabatannya berakhir pada Mei.
Scott Bessent juga menyampaikan kritik terhadap besarnya peran Fed di pasar aset.
Ukuran neraca Fed sendiri meningkat tajam sejak krisis keuangan 2008, dari kurang dari 1 triliun dolar menjadi sekitar 6,6 triliun dolar saat ini, turun dari puncaknya sekitar 9 triliun dolar pada 2022.
Kenaikan tersebut terjadi karena pembelian besar-besaran obligasi pemerintah dan sekuritas berbasis hipotek guna menstabilkan pasar serta memberikan stimulus ekonomi di luar instrumen suku bunga jangka pendek.
Namun, upaya mengecilkan neraca menghadapi tantangan karena pengurangan likuiditas berlebihan dapat mengganggu kendali Fed atas suku bunga jangka pendek, seperti yang terjadi pada 2019.
Setelah mengurangi neraca sejak 2022, Fed kembali membeli Treasury bill sejak Desember untuk menjaga kecukupan likuiditas selama musim pajak, meski pembelian tersebut diperkirakan akan melambat mulai Mei. (DK)