Survei: Inflasi energi bikin konsumen Eropa makin pesimistis
Sabtu, 28 Maret 2026

TEHERAN - Kepercayaan konsumen di kawasan Zona Euro semakin memburuk seiring meningkatnya kekhawatiran biaya hidup akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan berpotensi memicu inflasi baru.
Seperti dikutip Reuters, data terbaru menunjukkan indeks sentimen konsumen Jerman turun ke level terendah dalam dua tahun pada bulan ini.
Survei serupa di Prancis dan Italia juga menunjukkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap prospek ekonomi, tren yang diperkirakan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Kepala riset makro di Pictet Wealth Management, Frederik Ducrozet, menilai kondisi kemungkinan akan memburuk sebelum membaik.
Menurutnya, konsumen baru merasakan lonjakan harga bahan bakar, sementara dampak kenaikan harga pangan berpotensi menyusul, antara lain karena gangguan distribusi pupuk melalui Selat Hormuz.
Survei terpisah juga menunjukkan pelaku industri di Prancis semakin pesimistis terhadap iklim bisnis.
Ekonom ING Charlotte de Montpellier menyebut dampak perkembangan konflik terbaru belum sepenuhnya tercermin dalam data Maret, sehingga penurunan sentimen yang lebih tajam kemungkinan terjadi pada April jika situasi tidak mereda.
Indikator kepercayaan bisnis di Jerman juga melemah, sementara sejumlah ekonom, termasuk dari OECD, memperingatkan risiko perlambatan pertumbuhan bahkan resesi di kawasan tersebut.
European Central Bank menegaskan tidak akan membiarkan lonjakan inflasi akibat energi kembali mengakar, sehingga memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Pasar memperkirakan dua hingga tiga kenaikan suku bunga tahun ini, yang berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan memperburuk dampak konflik terhadap aktivitas ekonomi.
Meski demikian, sebagian ekonom menilai bank sentral bisa saja kembali memangkas suku bunga tahun depan apabila pertumbuhan ekonomi melemah dan tekanan inflasi mereda.
Data ECB juga menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan masih stabil pada Februari, mengindikasikan ekonomi zona euro sempat tumbuh moderat sebelum pecahnya konflik Iran.
Gubernur bank sentral Finlandia, Olli Rehn, menekankan pentingnya melihat kondisi ekonomi secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pergerakan harga minyak. (DK)