Harga minyak US$100, pasar keuangan global anjlok

Sabtu, 28 Maret 2026

image

WASHINGTON - Pasar keuangan global anjlok dan harga minyak AS menembus US$100 per barel.

Seperti dikutip Nbc News, hal ini menandakan kemampuan Presiden Donald Trump untuk menenangkan pelaku pasar mulai mencapai batasnya di tengah perang dengan Iran.

Pada Jumat, indeks S&P 500 ditutup turun 1,7% dan mencatat penurunan mingguan kelima berturut-turut, terburuk sejak 2022, mencerminkan menurunnya keyakinan investor terhadap penyelesaian cepat konflik. 

Sejak serangan AS ke Iran pada 28 Februari, S&P 500 telah melemah sekitar 7%.

Indeks Dow Jones Industrial Average juga merosot 1,7% pada Jumat dan kehilangan hampir 4.000 poin sejak perang dimulai, atau turun lebih dari 10% dari puncak terbarunya.

Sementara itu, Nasdaq Composite turun 2% dan telah terkoreksi sekitar 13% dari rekor tertinggi yang dicapai pada Oktober.

Lonjakan harga energi turut menekan pasar. Harga minyak mentah AS melampaui 100 dolar per barel, sementara minyak Brent global diperdagangkan sekitar 114 dolar.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,4%, level tertinggi sejak musim panas lalu. Beberapa saham energi, termasuk ExxonMobil, diperdagangkan mendekati rekor tertinggi.

Trump sebelumnya mengumumkan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari, namun pasar hanya merespons terbatas. 

Sebelumnya, saham sempat menguat setelah pemerintah menyebut adanya pembicaraan yang “produktif” dengan perwakilan Iran, meski optimisme tersebut tidak bertahan lama.

Analis menilai pasar kini lebih fokus pada kepastian kebijakan dibanding sekadar pernyataan pemerintah. 

Gangguan pasokan minyak dan gas dinilai cukup besar sehingga biaya transportasi energi diperkirakan tetap tinggi, bahkan jika jalur vital seperti Selat Hormuz kembali beroperasi normal.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve menjadi lebih kecil. 

Bahkan, probabilitas kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun kini dinilai lebih besar dibanding peluang penurunan.

Meski demikian, sejumlah analis menilai pasar belum jatuh lebih dalam karena prospek pertumbuhan laba perusahaan masih relatif positif. 

Namun, jika konflik berkepanjangan dan menekan konsumsi serta investasi, tekanan terhadap pasar saham dapat meningkat.

Para ahli menilai dinamika konflik yang kompleks membuat pernyataan singkat dari pemerintah tidak lagi cukup untuk menenangkan investor, sehingga kemampuan Trump memengaruhi arah pasar dinilai semakin terbatas dibanding periode sebelumnya. (DK)