Protes No Kings meledak di AS, ribuan aksi soroti kebijakan Trump

Minggu, 29 Maret 2026

image

JAKARTA — Gelombang protes bertajuk “No Kings” kembali meluas di berbagai wilayah Amerika Serikat pada Sabtu, dengan Minnesota menjadi pusat aksi utama di tengah meningkatnya tensi politik dan kebijakan imigrasi pemerintahan Donald Trump.Menurut laporan Al Jazeera (29/3), aksi ini merupakan demonstrasi “No Kings” pertama sejak perang gabungan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai sekitar satu bulan lalu. Aksi tersebut juga menandai gelombang ketiga protes nasional sejak Trump kembali menjabat untuk masa jabatan kedua.Lebih dari 3.300 aksi direncanakan berlangsung di seluruh 50 negara bagian, menjadikan protes ini sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar di Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir. Kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Washington, DC diperkirakan menjadi titik konsentrasi massa, sementara aksi paralel juga digelar di berbagai kota dunia seperti Roma, Paris, dan Berlin, dikutip dari Al Jazeera (29/3).Berbeda dari aksi sebelumnya, penyelenggara kini menargetkan mobilisasi besar di luar kota-kota metropolitan, terutama di wilayah yang cenderung konservatif. Sekitar dua pertiga peserta diperkirakan mengikuti aksi di luar pusat kota besar, memperkuat jangkauan gerakan “No Kings” secara nasional.Salah satu pendiri organisasi progresif Indivisible, Leah Greenberg, menegaskan bahwa kekuatan utama aksi kali ini terletak pada persebarannya. “Kisah utama dari mobilisasi Sabtu ini bukan hanya berapa banyak orang yang berdemonstrasi, tetapi di mana mereka berdemonstrasi,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera (29/3).Fokus utama aksi berada di kawasan Minneapolis–St Paul atau Twin Cities di Minnesota, yang sebelumnya menjadi sorotan nasional akibat kebijakan pengetatan imigrasi melalui Operasi Metro Surge pada Desember lalu. Operasi tersebut mengerahkan lebih dari 3.000 agen imigrasi federal ke wilayah tersebut.Kebijakan tersebut menuai kontroversi luas karena dugaan penggunaan kekuatan berlebihan dalam penggerebekan deportasi. Situasi memuncak pada Januari ketika dua warga negara AS, Alex Pretti dan Renee Nicole Good, tewas ditembak oleh agen federal, memicu kemarahan publik dan tuntutan reformasi nasional.Puluhan gugatan hukum kemudian diajukan terkait operasi tersebut sebelum akhirnya dihentikan pada Februari, dikutip dari Al Jazeera (29/3). Aksi “No Kings” di Minnesota kali ini juga menjadi momen untuk mengenang kedua korban melalui rangkaian pidato, konser, dan kehadiran berbagai tokoh publik.Sejumlah figur nasional turut hadir dalam aksi tersebut, termasuk Senator progresif Bernie Sanders. Acara juga dimeriahkan oleh penampilan musisi rock Bruce Springsteen dan penyanyi folk Joan Baez, serta pesan video dari aktor Robert De Niro.Dalam pesannya, De Niro menilai para demonstran telah menunjukkan keberanian dan komitmen tinggi serta membuktikan kekuatan aksi tanpa kekerasan. Ia juga menyoroti keberanian massa dalam menghadapi tekanan aparat bersenjata dan tetap bersatu dalam aksi.Di Washington, DC, para demonstran sejak pagi berkumpul di sekitar landmark ikonik seperti Lincoln Memorial dan Washington Monument. Mereka membawa berbagai poster serta mengibarkan boneka papier-mache yang menggambarkan pemerintahan Trump sebagai bentuk kritik simbolik, dikutip dari Al Jazeera (29/3).Dua aksi “No Kings” sebelumnya yang digelar pada Juni dan Oktober berhasil menarik jutaan peserta di seluruh Amerika Serikat. Trump merespons aksi Oktober tersebut dengan mengunggah video berbasis kecerdasan buatan yang memicu kontroversi luas karena menggambarkan dirinya menyerang para demonstran, dikutip dari Al Jazeera (29/3).Gelombang protes ini berlangsung di tengah kampanye menuju pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang. Partai Republik yang dipimpin Trump berupaya mempertahankan mayoritas di Kongres, sementara Partai Demokrat menargetkan tambahan kursi seiring penurunan tingkat popularitas presiden.Dalam pidatonya, Sanders mengingatkan pentingnya partisipasi publik dalam menjaga demokrasi. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh membiarkan negara jatuh ke dalam otoritarianisme atau oligarki, serta menekankan bahwa kekuasaan di Amerika Serikat tetap berada di tangan rakyat. (SA)