Alumunium Bahrain jadi target serangan Iran, umumkan force majeure
Minggu, 29 Maret 2026

JAKARTA — Aluminium Bahrain (Alba) mengonfirmasi bahwa fasilitas produksinya menjadi target serangan Iran pada Minggu pagi waktu setempat, sehari setelah insiden terjadi.
Menurut laporan Reuters (29/3), dua orang dilaporkan mengalami luka ringan, sementara pihak manajemen Alba sedang menilai tingkat kerusakan di fasilitasnya.Serangan ini terjadi setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan Alba dan Emirates Global Aluminium sebagai respons atas serangan terhadap dua pabrik baja Iran. IRGC juga menyebut kedua perusahaan memiliki keterkaitan dengan perusahaan militer dan aeronautika Amerika Serikat, dikutip dari Reuters (29/3).Klaim IRGC tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.Sebelumnya, pada awal Maret, Alba telah menghentikan operasi tiga lini peleburan aluminium yang mencakup sekitar 19% dari total kapasitas produksinya. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan bisnis di tengah gangguan di Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dan komoditas global.Penghentian operasi ini juga terkait dengan keputusan force majeure yang diumumkan perusahaan pada 4 Maret, setelah Alba tidak dapat mengirimkan logam kepada pelanggan akibat penutupan selat strategis tersebut.Gangguan ini menjadi tekanan terbaru bagi sektor aluminium di Timur Tengah, yang menyumbang sekitar 9% dari pasokan global, seiring meningkatnya dampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.Secara terpisah, Foulath Holding, perusahaan induk dari Bahrain Steel, mengumumkan force majeure atas operasionalnya pada Sabtu akibat konflik regional serta gangguan keamanan dan logistik yang menyertainya. Perusahaan menyatakan kondisi di kawasan telah menciptakan situasi di luar kendali yang berdampak pada operasional dan distribusi di sejumlah lini bisnisnya. (SA)