Chevron: Pasar salah asumsi dampak perang Iran pada harga minyak
Senin, 30 Maret 2026

JAKARTA - Perusahaan energi besar Chevron (CVX) memperingatkan adanya asumsi berbahaya di pasar terkait dampak konflik Iran terhadap pasokan minyak global.Seperti dikutip The Street, harga minyak sempat turun setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan masih berkomitmen untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.Pernyataan tersebut membuat sebagian pelaku pasar menilai guncangan pasokan minyak hanya bersifat sementara.Di permukaan, optimisme itu terlihat masuk akal karena sinyal diplomasi biasanya meredakan kekhawatiran krisis geopolitik berubah menjadi darurat energi global.
Namun, CEO Chevron Mike Wirth menilai pasar terlalu cepat menyimpulkan bahwa dampak gangguan pasokan akan segera mereda.Dalam forum CERAWeek di Houston, Wirth menegaskan pasar kontrak berjangka minyak belum sepenuhnya mencerminkan gangguan fisik yang terjadi akibat krisis Iran.Penutupan Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia, dinilai memiliki konsekuensi nyata yang tidak bisa pulih dalam waktu singkat.Menurutnya, pasar futures sering bergerak berdasarkan sentimen, harapan, dan berita utama.Sementara itu, pasar fisik minyak bergantung pada kapal tanker, penyimpanan, serta jalur ekspor yang membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali normal setelah terganggu.Bagi investor Chevron, perkembangan pasar minyak menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan. Isu ini bukan sekadar fluktuasi harga dalam satu sesi perdagangan, melainkan potensi tekanan pasokan jangka lebih panjang yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga saat ini.Wirth menegaskan bahwa dampak penutupan Selat Hormuz memiliki konsekuensi fisik nyata terhadap distribusi energi global.
Ia memperingatkan gangguan tersebut belum sepenuhnya diperhitungkan dalam harga kontrak berjangka minyak, sehingga pasar berisiko meremehkan potensi tekanan pasokan di masa mendatang. (DK)