Saham dan obligasi turun, investasi managed futures ETF lebih menarik?
Senin, 30 Maret 2026

JAKARTA – Strategi managed futures ETF kembali dilirik investor global seiring melemahnya pasar saham dan obligasi, serta lonjakan harga minyak yang menembus level US$100 di tengah meningkatnya volatilitas pasar.Menurut laporan CNBC (29/3), kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik akibat konflik Amerika Serikat dan Iran, serta meningkatnya risiko stagflasi seperti yang pernah terjadi pada era 1970-an, sehingga mendorong investor mencari strategi investasi alternatif untuk diversifikasi portofolio.Managed futures merupakan strategi investasi berbasis model sistematis yang digunakan oleh penasihat perdagangan komoditas untuk memperdagangkan kontrak berjangka di berbagai kelas aset.
Strategi ini tidak berfokus pada pergerakan jangka pendek, melainkan pada tren pasar yang berkembang dalam jangka menengah hingga panjang, biasanya dalam periode 3 hingga 12 bulan.Fleksibilitas menjadi keunggulan utama managed futures karena dapat mengambil posisi long maupun short, sehingga mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tren dan kondisi pasar global yang dinamis.Kinerja strategi ini terbukti saat pasar mengalami tekanan. Pada 2022, ketika S&P 500 Index turun sekitar 18% dan Bloomberg U.S. Aggregate Bond Index melemah sekitar 13%, managed futures justru mencatatkan kenaikan hingga 20%.“Itu merupakan kinerja yang sangat unggul dalam kondisi saham dan obligasi tertekan,” ujar Nate Geraci dalam program ETF Edge, dikutip dari CNBC (29/3).Andrew Beer menambahkan bahwa ketidakpastian inflasi, arah suku bunga, serta kondisi geopolitik yang volatil menjadi lingkungan yang ideal bagi strategi managed futures. Pendekatan ini dinilai mampu merespons berbagai peluang di pasar melalui posisi long dan short secara fleksibel.ETF managed futures masih tergolong sebagai kategori kecil dengan total aset sekitar US$6,5 miliar. Namun, salah satu produk terbesar, yaitu iMGP DBi Managed Futures Strategy ETF, berhasil menarik aliran dana sekitar US$1 miliar sepanjang tahun ini.Kehadiran ETF membuat strategi managed futures yang sebelumnya identik dengan hedge fund kini lebih mudah diakses oleh investor ritel melalui instrumen yang lebih likuid dan transparan.
“Kami memanfaatkan strategi hedge fund terbesar dan mencoba menirunya secara lebih efisien. Kami berkembang dalam perubahan selama 3, 6, 9, hingga 12 bulan, bukan pergerakan harian,” ujar Beer, dikutip dari CNBC (29/3).Seiring meningkatnya minat terhadap strategi investasi alternatif, industri ETF diperkirakan akan menghadirkan lebih banyak produk managed futures dan strategi hedge fund lainnya dalam waktu mendatang.Masuknya manajer aset global seperti BlackRock, Invesco, dan Fidelity Investments dalam setahun terakhir menjadi sinyal kuat meningkatnya permintaan investor ritel terhadap instrumen ini.“Mereka semua masuk ke pasar dalam setahun terakhir, dan itu menunjukkan adanya permintaan nyata dari investor ke depan. Minatnya memang ada, terutama dalam kondisi pasar seperti sekarang,” kata Geraci, dikutip dari CNBC (29/3).Meski menawarkan potensi imbal hasil saat pasar volatil, managed futures ETF memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan investasi saham dan obligasi konvensional. Investor perlu memahami bahwa kinerja strategi ini tidak selalu unggul dan dapat mengalami periode tertinggal.“Saya pikir ini jelas lebih kompleks dibandingkan ETF lainnya. Investor dan penasihat perlu benar-benar memahami cara kerjanya,” ujar Geraci, dikutip dari CNBC (29/3).Ia menekankan pentingnya bagi investor untuk tetap bertahan dalam periode underperformance yang tidak terhindarkan dan memberikan waktu bagi strategi ini untuk bekerja sepanjang siklus pasar penuh.“Mereka bisa bekerja sangat baik saat dibutuhkan, tetapi harus diberi waktu untuk berjalan sepanjang siklus pasar penuh,” ujarnya, dikutip dari CNBC (29/3).Sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio, Beer menyarankan alokasi sekitar 3% hingga 5% pada managed futures ETF, berdampingan dengan aset riil atau infrastruktur.“Kita semua punya tujuan yang sama: ingin aset investor tumbuh, tetapi tetap bisa tidur nyenyak,” tutupnya, dikutip dari CNBC (29/3). (SA)