Krisis BBM dimulai di Asia, IHSG berisiko turun di bawah 7.000
Senin, 30 Maret 2026

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menghadapi koreksi lanjutan dan melemah di bawah level 7.000 pada pekan ini, tertekan sentimen negatif dari Wall Street dan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meluas.
Analis Phintraco Sekuritas menilai indeks acuan saham di Wall Street telah turun selama 5 pekan berturut-turut, hingga Nasdaq Composite mencatat penurunan lebih dari 10% sejak mencapai level puncaknya.
Dari pasar global, lonjakan harga minyak mentah kembali melonjak, setelah upaya negosiasi damai AS dan Iran tak kunjung menemui kepastian.
“Beberapa negara, terutama dari Asia, telah mengumumkan krisis BBM. Jika ini berlangsung lama dan meluas akan berdampak pada perlambatan ekonomi global serta memicu potensi stagflasi,” jelas analis Phintraco, dalam catatan mingguan yang disampaikan kepada investor awal pekan ini.
Dari dalam negeri, investor menanti sejumlah agenda penting. Mulai dari rilis data indeks S&P Global Manufacturing PMI, hingga revisi aturan bursa terkait papan pemantauan khusus.
Namun dengan periode perdagangan yang relatif lebih pendek pekan ini, akibat adanya long week-end atau libur panjang, investor diperkirakan cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.
“Jika tidak ada perubahan positif pekan ini, diperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji level 6.800-7.000,” jelas analis Phintraco.
Menurut data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial (DJI) di AS melemah 1,73% pada perdagangan Jumat (27/3) kemarin. Nasdaq Composite melemah 2,15% dan S&P turun 2,15%.
Harga minyak mentah brent bertahan di US$116,53 per barel, setelah melonjak 3,52% pada perdagangan Jumat. Sementara minyak mentah WTI di level US$103 per barel, setelah ditutup menguat 3,37%.
Dari pasar logam mulia, harga emas di pasar spot dibuka melemah 0,75% pada awal sesi Asia dan berada di level US$4.460 per troi ons. Kontrak berjangka emas juga melemah 1,38% dan berada di level US$4.461,9 per troi ons. (KR)