Harga minyak naik, Goldman Sachs: Pengangguran di AS naik jadi 4,6%
Senin, 30 Maret 2026

JAKARTA — Lonjakan harga minyak global mulai menekan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS), dengan Goldman Sachs memproyeksikan hilangnya sekitar 10.000 pekerjaan per bulan hingga akhir 2026.Menurut laporan TheStreet (29/3), ekonom Goldman Sachs Pierfrancesco Mei dalam catatan tertanggal 26 Maret 2026 memperkirakan kenaikan harga minyak saat ini akan mengurangi pertumbuhan payroll AS secara konsisten, mencerminkan tekanan berkelanjutan terhadap ekonomi dan daya beli masyarakat.Goldman Sachs juga memperkirakan tingkat pengangguran AS akan naik sebesar 0,2 poin persentase menjadi 4,6% pada kuartal III 2026.
Dari total kenaikan tersebut, sekitar 0,1 poin persentase berasal langsung dari guncangan harga minyak, sementara 0,1 poin persentase lainnya mencerminkan pertumbuhan lapangan kerja yang sudah terlalu lambat untuk menyerap peningkatan tenaga kerja.Untuk memastikan akurasi proyeksi, Goldman mencocokkan hasilnya dengan model ekonomi FRB/US milik Federal Reserve serta berbagai riset akademis, yang menunjukkan hasil konsisten di seluruh pendekatan, dikutip dari TheStreet (29/3).Meski harga minyak melonjak, dampaknya terhadap ekonomi AS dinilai jauh lebih kecil dibandingkan periode 1970-an hingga 1980-an.
Dengan menggunakan metode yang dikembangkan ekonom Diego Känzig, yang mengisolasi guncangan pasokan minyak melalui pergerakan harga futures dalam jangka waktu sempit di sekitar pengumuman produksi OPEC, kenaikan harga minyak sebesar 10% saat ini hanya berdampak sekitar sepertiga terhadap pengangguran dan pertumbuhan tenaga kerja dibandingkan periode 1975–1999.Perbedaan tersebut didorong oleh perubahan struktural dalam ekonomi AS. Intensitas penggunaan minyak terhadap produk domestik bruto (PDB) telah menurun signifikan, sehingga tekanan terhadap konsumsi dan investasi non-energi menjadi lebih terbatas. Selain itu, revolusi shale sejak 2010 menciptakan sektor energi domestik yang mampu memberikan dorongan terhadap investasi dan perekrutan saat harga minyak meningkat.Namun, efek penyeimbang dari sektor energi kini lebih terbatas. Peningkatan produktivitas dalam ekstraksi minyak membuat tambahan lapangan kerja tidak sebesar sebelumnya meskipun produksi meningkat. Goldman juga tidak memperkirakan adanya lonjakan signifikan dalam belanja modal energi, sehingga dampak positif ke sektor pendukung seperti manufaktur peralatan minyak dan pembangunan pipa tetap terbatas.Menurut laporan TheStreet (29/3), Goldman memperkirakan harga minyak Brent akan rata-rata berada di level US$105 per barel pada Maret dan meningkat ke US$115 pada April, sebelum turun ke sekitar US$80 pada kuartal IV 2026. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz akan tetap sangat rendah selama sekitar enam minggu.Dalam skenario dasar tersebut, guncangan harga minyak diperkirakan mendorong kenaikan tingkat pengangguran sebesar 0,1 poin persentase. Jika dikombinasikan dengan perlambatan struktural pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran AS diproyeksikan mencapai 4,6% pada kuartal III 2026.Goldman juga memodelkan skenario yang lebih ekstrem. Dalam kondisi negatif dengan harga minyak Brent mencapai US$140 per barel, dampaknya terhadap pengangguran meningkat menjadi 0,2 poin persentase. Sementara dalam skenario sangat buruk dengan harga mencapai US$160 per barel, kontribusinya bisa naik hingga 0,3 poin persentase, dikutip dari TheStreet (29/3).Tekanan terbesar diperkirakan terjadi pada sektor yang sangat bergantung pada belanja konsumen. Sektor rekreasi dan perhotelan diproyeksikan kehilangan sekitar 5.000 pekerjaan per bulan, sementara perdagangan ritel sekitar 2.000 pekerjaan per bulan. Sektor seni, hiburan, akomodasi, dan layanan makanan juga mencatat penurunan tajam dalam tingkat perekrutan, seiring konsumen mengurangi pengeluaran diskresioner.Sebaliknya, sektor kesehatan dan perumahan relatif lebih tahan karena termasuk kebutuhan esensial. Goldman menegaskan bahwa kenaikan pengangguran lebih banyak disebabkan oleh perlambatan perekrutan dibandingkan lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK), mencerminkan pendinginan pasar tenaga kerja, bukan gelombang pemecatan besar.Secara keseluruhan, ekonomi AS dinilai tidak menghadapi guncangan harga minyak seperti era 1970-an. Namun, kombinasi antara kenaikan harga minyak global, melemahnya belanja konsumen, dan perlambatan pasar tenaga kerja tetap cukup kuat untuk mendorong kenaikan pengangguran dalam beberapa tahun ke depan, dikutip dari TheStreet (29/3).Perkiraan penurunan payroll sebesar 10.000 pekerjaan per bulan menunjukkan bahwa meskipun sektor energi masih memberikan tambahan lapangan kerja, dampaknya tidak cukup besar untuk mengimbangi pelemahan di sektor berbasis konsumsi, sehingga tekanan bersih terhadap pasar tenaga kerja AS tetap negatif. (SA)