Perkuat kapal selam hadapi Amerika, China bikin peta dasar laut global
Senin, 30 Maret 2026

JAKARTA — China mempercepat pemetaan dasar laut global sebagai bagian dari strategi memperkuat operasi kapal selam dalam menghadapi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Langkah ini menunjukkan peningkatan ambisi China dalam membangun kekuatan militer maritim, khususnya dalam perang bawah laut.Menurut laporan Reuters (29/3), China menjalankan operasi besar pemetaan dasar laut dan pemantauan bawah laut di Samudra Pasifik, Hindia, hingga Arktik. Aktivitas ini melibatkan puluhan kapal riset dan ratusan sensor untuk mengumpulkan data penting terkait kondisi laut yang dibutuhkan dalam strategi kapal selam modern.Salah satu kapal yang menjadi pusat perhatian adalah Dong Fang Hong 3 milik Ocean University of China. Berdasarkan data pelacakan dari Starboard Maritime Intelligence, kapal ini aktif beroperasi sepanjang 2024 hingga 2025 dengan rute strategis, termasuk bolak-balik di perairan dekat Taiwan dan pangkalan militer AS di Guam.Pada Oktober 2024, kapal tersebut memeriksa sistem sensor bawah laut China di dekat Jepang yang mampu mendeteksi objek di laut dalam. Kapal itu kembali ke lokasi yang sama pada Mei 2025, sebelum pada Maret 2025 menyisir perairan antara Sri Lanka dan Indonesia, termasuk jalur menuju Selat Malaka yang menjadi titik krusial perdagangan global.Selain melakukan riset iklim dan survei sedimen, Dong Fang Hong 3 juga menjalankan pemetaan laut dalam secara intensif serta membantu penempatan sensor laut. Data ini sangat penting dalam strategi kapal selam China, baik untuk navigasi, penyamaran, maupun mendeteksi kapal selam lawan, dikutip dari Reuters (29/3).Operasi pemetaan dasar laut China tidak dilakukan oleh satu kapal saja. Reuters mencatat lebih dari 42 kapal riset terlibat dalam aktivitas ini selama lebih dari lima tahun. Dari jumlah tersebut, setidaknya delapan kapal melakukan pemetaan langsung, sementara 10 kapal lainnya membawa peralatan survei laut.Dalam praktiknya, kapal-kapal tersebut memetakan dasar laut dengan pola jalur rapat bolak-balik untuk menghasilkan peta bawah laut yang detail. Data ini dinilai sangat penting dalam mempersiapkan medan tempur kapal selam. Mantan kepala pasukan kapal selam Australia, Peter Scott, menyebut informasi tersebut krusial untuk memahami lingkungan operasi militer di bawah laut, dikutip dari Reuters (29/3).Wilayah yang dipetakan mencakup area strategis seperti perairan sekitar Filipina, Guam, Hawaii, hingga fasilitas militer AS di atol Wake. Selain itu, kapal China juga melakukan survei di sekitar Hawaii, punggungan bawah laut dekat Papua Nugini, serta Pulau Christmas yang berada di jalur penting antara Laut China Selatan dan pangkalan kapal selam Australia.Menurut laporan Reuters (29/3), fokus utama pemetaan dasar laut China berada di wilayah timur Filipina yang termasuk dalam First Island Chain. Kawasan ini merupakan penghalang alami bagi akses China ke Samudra Pasifik.
“Mereka khawatir terkurung,” kata analis maritim Peter Leavy, yang menilai pemetaan ini sebagai upaya memahami medan laut untuk memperluas jangkauan militer.Selain Pasifik, China juga memperluas strategi kapal selamnya ke Samudra Hindia yang menjadi jalur vital impor energi. Analis pertahanan Jennifer Parker menyebut langkah ini menunjukkan potensi peningkatan operasi kapal selam China di kawasan tersebut, dikutip dari Reuters (29/3).Aktivitas pemetaan dasar laut juga menjangkau wilayah barat dan utara Alaska, yang merupakan jalur penting menuju Arktik. Kawasan ini telah diidentifikasi China sebagai frontier strategis dengan ambisi menjadi kekuatan besar di wilayah kutub pada dekade mendatang.Dari sisi teknis, pemetaan dasar laut China mencakup pengumpulan data suhu air, salinitas, dan arus laut. Faktor-faktor ini memengaruhi pergerakan gelombang suara di bawah laut, yang menjadi dasar sistem sonar dalam mendeteksi kapal selam, seperti dijelaskan mantan komandan kapal selam AS Tom Shugart.Strategi ini diperkuat melalui proyek “lautan transparan”, yaitu jaringan sensor bawah laut yang dirancang untuk memantau kondisi laut secara luas. Proyek ini dimulai sejak 2014 dengan dukungan pendanaan besar dari pemerintah daerah di China.Jaringan sensor tersebut kini tersebar di berbagai wilayah strategis, termasuk di Laut China Selatan, Pasifik barat, hingga Samudra Hindia. Sistem ini mencakup area sekitar Jepang, timur Filipina, Guam, serta punggungan bawah laut Ninety East Ridge yang berada di jalur menuju Selat Malaka.Pejabat intelijen Angkatan Laut AS menyatakan jaringan ini memungkinkan pemantauan kapal selam secara berkelanjutan serta mendukung penempatan sensor dan sistem pertahanan bawah laut. Aktivitas ini juga dinilai sebagai potensi pengumpulan intelijen militer yang menjadi “kekhawatiran strategis”, dikutip dari Reuters (29/3).Meski diklaim sebagai riset ilmiah, China mengintegrasikan kegiatan ini dengan pengembangan militer melalui konsep “fusi sipil-militer”. Hal ini memperkuat peran pemetaan dasar laut dalam strategi pertahanan jangka panjang negara tersebut.Di sisi lain, AS juga melakukan pemetaan laut, namun umumnya menggunakan kapal militer yang dapat mematikan sistem pelacakan. Kapal riset China juga diketahui terkadang menonaktifkan sistem tersebut, sehingga skala sebenarnya dari operasi ini diperkirakan lebih luas.Analis Ryan Martinson menyebut skala penelitian kelautan China sangat besar dan berpotensi mengurangi keunggulan tradisional AS dalam memahami medan tempur laut. Hal ini menunjukkan perubahan keseimbangan kekuatan dalam perang bawah laut global, dikutip dari Reuters (29/3).Secara keseluruhan, pemetaan dasar laut global oleh China menjadi bagian penting dari strategi kapal selam dan ambisi menjadi kekuatan maritim dunia. Dengan kombinasi teknologi sensor, riset ilmiah, dan integrasi militer, China semakin memperkuat posisinya dalam persaingan geopolitik di bawah laut. (SA)