Pakistan siap jadi tuan rumah perundingan damai AS-Iran
Senin, 30 Maret 2026

TEL AVIV - Pakistan menyatakan tengah bersiap menjadi tuan rumah perundingan damai guna mengakhiri konflik Iran dalam beberapa hari ke depan.
Seperti dikutip Reuters, pernyataan ini muncul di tengah tuduhan Teheran bahwa Amerika Serikat sedang menyiapkan operasi darat, meski di saat yang sama membuka peluang negosiasi.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar, usai pertemuan dengan para menteri luar negeri kawasan, mengatakan pembahasan difokuskan pada upaya mencapai penghentian perang yang cepat dan permanen, termasuk kemungkinan dialog antara AS dan Iran di Islamabad.
Ia menegaskan Pakistan siap memfasilitasi pembicaraan yang bermakna antara kedua pihak demi mencapai penyelesaian komprehensif dan berkelanjutan.
Namun, belum ada kepastian apakah Washington dan Teheran akan menghadiri pertemuan tersebut.
Upaya Pakistan menghadapi tantangan karena perbedaan posisi yang tajam antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terkait syarat penghentian konflik.
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuduh AS mengirim sinyal negosiasi sambil diam-diam menyiapkan pengerahan pasukan.
Ia menegaskan Iran siap merespons jika tentara AS benar-benar dikerahkan.
Sementara itu, pembahasan awal antara Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Mesir juga mencakup rencana membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional.
Penutupan jalur vital tersebut sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari telah memicu tekanan ekonomi global.
Memasuki bulan kedua, konflik belum menunjukkan tanda mereda. Militer Israel melaporkan telah melancarkan lebih dari 140 serangan udara ke berbagai wilayah Iran dalam 24 jam terakhir, termasuk fasilitas rudal balistik.
Di sisi lain, serangan balasan Iran terus berlanjut. Sebuah fasilitas kimia di Israel selatan dilaporkan terdampak rudal atau puing intersepsi, sementara serangan lain melukai sejumlah warga.
Konflik juga meluas ke kawasan lain. Kelompok Houthi di Yaman mulai menyerang Israel, meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur pelayaran global lainnya, termasuk Selat Bab el-Mandeb.
Amerika Serikat sendiri telah mengerahkan ribuan marinir ke Timur Tengah, sementara Pentagon dilaporkan mempertimbangkan opsi operasi darat dalam beberapa pekan ke depan, meski belum ada keputusan final dari Presiden Donald Trump.
Di tengah eskalasi, Washington sebelumnya mengajukan rencana gencatan senjata yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembatasan program nuklir Iran, namun proposal tersebut ditolak oleh Teheran.
Perang yang berkepanjangan ini dikhawatirkan akan semakin menekan ekonomi global, seiring gangguan pasokan energi dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. (DK)