Rusia sulit alihkan ekspor LNG ke Asia karena biaya dan kontrak

Senin, 30 Maret 2026

image

JAKARTA – Rusia menghadapi kendala besar dalam mengalihkan ekspor gas alam cair (LNG) dari Eropa ke Asia di tengah lonjakan harga energi global dan tekanan geopolitik. Menurut laporan Reuters (29/3), struktur kontrak jangka panjang dan tingginya biaya pengiriman menjadi faktor utama yang membatasi langkah tersebut.

Ancaman Rusia untuk menghentikan pasokan LNG ke Eropa dan mengalihkan kargo ke Asia dinilai tidak mudah direalisasikan. Selain sebagian besar volume telah terikat kontrak jangka panjang, Rusia juga membutuhkan tambahan kapal tanker kelas Arktik untuk mendukung distribusi ke pasar Asia.

Presiden Rusia, Vladimir Putin menyatakan dalam wawancara televisi awal Maret bahwa Rusia dapat menghentikan pasokan gas ke Eropa secara langsung dan mencari pembeli baru dengan komitmen jangka panjang. Ia menyebut pernyataan tersebut sebagai “berpikir keras” dan menilai langkah tersebut berpotensi lebih menguntungkan bagi Rusia dalam jangka pendek, dikutip dari Reuters (29/3).

Di tengah rencana tersebut, dinamika geopolitik global turut memperburuk kondisi pasar energi. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menyebabkan lonjakan harga gas, karena sekitar 20% pasokan LNG global terganggu.

Rusia juga menghadapi kebijakan Uni Eropa yang akan melarang impor LNG Rusia dari kontrak jangka pendek mulai 25 April dan kontrak jangka panjang mulai 1 Januari 2027. Kondisi ini mendorong Rusia untuk mencari pasar alternatif di Asia, meski fleksibilitasnya tetap terbatas, menurut laporan Reuters (29/3).

Data Kpler menunjukkan Uni Eropa masih mengimpor sekitar 14,94 juta metrik ton atau 20,3 miliar meter kubik LNG dari proyek Yamal pada 2025. Sekitar 70% dari volume tersebut terikat kontrak jangka panjang, sehingga sulit dialihkan ke pasar lain.

Direktur gas & LNG Eropa Wood Mackenzie, Tom Marzec-Manser, menyebut Rusia hanya memiliki sekitar 2,4 juta ton LNG spot yang tersedia tahun ini. Namun, pengiriman ke Asia sebelum rute Arktik kembali dibuka pada akhir musim panas dinilai tidak ekonomis karena jarak tempuh yang lebih panjang dan biaya logistik yang tinggi.

Ia memperkirakan volume maksimal yang dapat dialihkan dari Eropa ke Asia tahun ini hanya sekitar 1,7 juta ton. Angka ini setara sekitar 1,7% dari total impor LNG Uni Eropa yang mencapai 100,5 juta ton pada 2025, dikutip dari Reuters (29/3).

Dari sisi logistik, pengiriman LNG Rusia ke Asia juga menghadapi keterbatasan rute. Jalur Laut Utara di sepanjang pesisir Arktik Rusia memang menjadi rute tercepat, tetapi hanya dapat dilalui pada periode Juli hingga akhir November oleh kapal khusus kelas es ARC7.

Di luar periode tersebut, pengiriman harus melalui Terusan Suez atau memutar melalui Tanjung Harapan. Rute ini dapat memakan waktu dua kali lebih lama, sehingga meningkatkan biaya pengiriman secara signifikan, menurut laporan Reuters (29/3).

Direktur Eikland Energy, Kjell Eikland, menyebut proyek Yamal saat ini mengekspor sekitar 18 juta ton LNG per tahun. Untuk mempertahankan volume tersebut sekaligus melayani pasar Asia mulai 2027, Novatek diperkirakan membutuhkan tambahan 25 hingga 35 kapal tanker selama musim dingin.

Bahkan, untuk mengalihkan sekitar 30% volume LNG spot ke Asia tahun ini saja, Rusia masih membutuhkan tambahan sekitar 10 kapal tanker.

Selain kendala logistik, Rusia juga menghadapi risiko operasional. Moskow dilaporkan menghindari rute Terusan Suez sejak awal Maret setelah sebuah tanker LNG Rusia terbakar di lepas pantai Libya. Rusia menyebut insiden itu sebagai serangan drone laut Ukraina, sementara Ukraina belum memberikan komentar, dikutip dari Reuters (29/3).

Dari sisi pendanaan, tantangan juga semakin kompleks. Meskipun proyek Yamal tidak terkena sanksi langsung, sejumlah fasilitas LNG Rusia lainnya, kapal, dan lembaga pembiayaan telah dikenai sanksi Barat, sehingga menyulitkan akses pembiayaan perdagangan.

Sumber industri menyebut pembayaran untuk pengiriman LNG tambahan kemungkinan harus dilakukan di luar sistem perbankan konvensional, termasuk melalui skema antar pemerintah.

Lonjakan tarif pengiriman LNG akibat krisis Timur Tengah membuat pengalihan ke Asia hanya masuk akal jika Rusia memberikan diskon harga besar, menurut laporan Reuters (29/3).

Namun, bahkan dengan diskon signifikan, LNG Rusia masih berisiko terlalu mahal bagi pembeli Asia yang sensitif terhadap harga. China diperkirakan tetap menjadi pembeli utama tambahan LNG Rusia, tetapi dengan syarat harga yang jauh lebih murah.

Sejauh ini, China telah menyerap seluruh volume dari proyek Arctic LNG-2 dengan diskon sekitar 30% hingga 40% dari harga acuan LNG. (SA)