Harga emas rebound, aksi buy on dip dorong kenaikan mingguan
Senin, 30 Maret 2026

JAKARTA - Harga emas mencatat kenaikan mingguan pertamanya sejak perang di Timur Tengah pecah, didorong aksi beli saat harga turun (buy on dip).Seperti dikutip Bloomberg, logam mulia tersebut diperdagangkan di kisaran US$4.490 per ons pada awal sesi, setelah menguat 2,7% pada penutupan sebelumnya.Minat beli mulai muncul menyusul aksi jual terbesar dalam beberapa tahun terakhir, meski kekhawatiran tetap ada bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong bank sentral menjual cadangan emas atau menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.Memasuki bulan kedua perang, Pakistan, Mesir, dan Arab Saudi menggelar pembicaraan akhir pekan untuk mencari jalan keluar konflik. Namun, serangan belum mereda.Sebagian wilayah Teheran mengalami pemadaman listrik akibat serangan rudal, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran turut terlibat, dan Amerika Serikat menambah kehadiran militernya di kawasan.Iran juga dilaporkan menyerang fasilitas peleburan aluminium di Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Meski sempat menguat tipis pekan lalu, harga emas masih turun sekitar 15% sejak konflik dimulai. Pergerakannya cenderung sejalan dengan saham dan berlawanan arah dengan minyak.
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga, yang menjadi tekanan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, bank sentral Turki tercatat menjual dan menukar sekitar 60 ton emas senilai lebih dari US$8 miliar dalam dua pekan pertama perang.
Jika langkah serupa diikuti bank sentral lain, laju pembelian emas global bisa melambat dan mengubah pandangan bahwa bank sentral enggan melepas cadangan emasnya.
Pada perdagangan pagi di Singapura, harga emas spot turun tipis 0,1% menjadi US$4.490,22 per ons. Perak melemah 1,6% ke US$68,62, sementara platinum dan paladium juga ikut terkoreksi. Indeks dolar AS menguat 0,2% setelah naik 0,7% sepanjang pekan lalu. (DK)