Volume kartu kripto meroket, stablecoin kuasai Asia Tenggara

Senin, 30 Maret 2026

image

JAKARTA – Adopsi aset kripto di sektor ritel Asia Tenggara kini memasuki fase kematangan baru yang masif. Alih-alih digunakan untuk spekulasi, mata uang kripto bernilai stabil (stablecoin) kini telah bertransformasi menjadi infrastruktur tulang punggung tak kasatmata (invisible) yang menopang lonjakan tajam penggunaan kartu pembayaran digital.

Perusahaan penyedia infrastruktur stablecoin asal Singapura, StraitsX, melaporkan ledakan volume transaksi kartu kripto hingga 40 kali lipat antara kuartal keempat tahun 2024 hingga periode yang sama di tahun 2025, diiringi dengan meroketnya penerbitan kartu hingga 83 kali lipat.

Seperti dikutip Coindesk (30/03/2026), pencapaian fenomenal tersebut menjadikan program kartu stablecoin StraitsX sebagai salah satu yang tumbuh paling cepat di Asia Tenggara. 

Co-founder sekaligus CEO StraitsX, Tianwei Liu, menegaskan bahwa pengguna tidak peduli apakah pembayaran mereka berjalan di atas jaringan kripto atau mata uang fiat (fiat), melainkan hanya peduli bahwa transaksinya berhasil.

Strategi ini menempatkan StraitsX sebagai sponsor BIN (Bank Identification Number) dari jaringan pembayaran global yang memfasilitasi mitra seperti RedotPay dan UPay untuk menerbitkan kartu. RedotPay sendiri tercatat memproses volume lebih dari US$2,95 miliar sepanjang 2025, mendominasi pasar jauh melampaui 13 pesaing terdekatnya.

Secara kumulatif, StraitsX kini memproses hampir US$30 miliar transaksi stablecoin, membuktikan bahwa lapisan teknologi ini bekerja mulus di belakang layar layaknya kabel serat optik (fiber-optic cables).

Lonjakan ini nyatanya sejalan dengan gelombang pasang industri secara global. Data Artemis Analytics mengestimasi volume bulanan kartu kripto global tumbuh dari sekitar US$100 juta pada awal 2023 menjadi lebih dari US$1,5 miliar pada akhir 2025.

Raksasa pembayaran Visa meraup lebih dari 90 persen volume pengeluaran kartu di rantai blok (onchain), dengan nilai transaksi kartu berbasis stablecoin Visa menyentuh tingkat laju tahunan (annualized run rate) sebesar US$3,5 miliar pada kuartal keempat 2025.

Untuk memperluas dominasi teknologinya, StraitsX menargetkan peluncuran dua token andalannya, XSGD dan XUSD, di jaringan Solana pada akhir Maret guna mendukung standar x402 untuk pembayaran mikro antar-mesin (machine-to-machine micropayments). XSGD saat ini memimpin pangsa pasar stablecoin non-USD di Asia Tenggara dengan dominasi lebih dari 70 persen.

Kehadiran infrastruktur ini juga secara agresif mulai mendisrupsi sistem pembayaran lintas batas (cross-border). Melalui inisiatif regulasi bank sentral Singapura bernama Project BLOOM, wisatawan Thailand kelak dapat memindai kode QR di Singapura menggunakan Q Wallet dari KBank, di mana sistem akan secara otomatis mengonversi Q-money Thailand dengan XSGD di latar belakang tanpa disadari pengguna.

Manajer Negara Visa untuk Singapura dan Brunei, Adeline Kim, menganalogikan pergeseran ini layaknya mengendarai mobil listrik (electric car) di jalan raya yang sama; kendaraannya berbeda, namun rambu dan aturannya tidak berubah.

Evolusi ini dinilai sangat krusial untuk memangkas tingginya biaya pengiriman uang (remittances), di mana Bank Dunia mengestimasi biaya rata-rata pengiriman uang US$200 secara internasional masih bertengger di angka 6,49 persen, sebuah inefisiensi sistemik yang kini dapat dipangkas drastis oleh kehadiran stablecoin. (SF)